Thursday, February 9, 2012

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR II PENGENALAN ALAT DAN TEKNIK STERILISASI, PEMBUATAN MEDIA, DAN TEKNIK ISOLASI

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR II
PENGENALAN ALAT DAN TEKNIK STERILISASI,
 PEMBUATAN MEDIA, DAN TEKNIK ISOLASI





Oleh    :
Erdittya Ekanovie Nindhitasari         ( 09312244002)
Endah Dani Puspitaningrum              ( 09312244034 )
Anisa Indriastuti                                 ( 09312244035 )
Reny Witulasari Sismi                       ( 09312244041 )
Wihdah Hidayatun Nuha                    ( 09312244050 )
Ria Alfian Rizkya Putri                      ( 09312244053 )


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010



KEGIATAN 11
A.    TUJUAN
Mengenalkan alat-alat yang digunakan dalam laboratorium mikrobiologi dan teknik sterilisasi
B.    DASAR TEORI
Sterilisasi dalam mikrobiologi berarti membebaskan tiap benda atau substansi dari semua kehidupan dalam bentuk apapun. Untuk tujuan mikrobiologi dalam usaha mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan setempat (in situ) oleh panas (kalor), gas – gas seperti formaldehide, etilenoksida, atau betapriolakton oleh bermacam – macam larutan kimia, oleh sinar lembayung ultra atau sinar gamma. (Drs. Koes Irianto, 2007 : 83)
Bahan apapun peralatan yang dipergunakan di dalam bidang mikrobiologi harus dalam keadaan steril. Artinya pada bahan atau peralatan tersebut tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang akan mengganggu/merusak media ataupun mengganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. (Unus Suriawiria, 1986 : 65)
Steril akan didapatkan melalui sterilisasi, sedang cara strerilisasi yang umum dilakukan adalah :
1)     Sterilisasi secara fisik, misal dengan pemanasan, penggunaan sinar bergelombang pendek seperti sinar – x, sinar gamma, sinar ultra – violet, dan sebagainya. (Unus Suriawiria, 1986 : 65)
Sterilisasi secara fisik dengan menggunakan udara panas atau uap air panas dengan tekanan tinggi, misalnya dengan penggunaan autoclave dengan temperatur 121o C dengan tekanan 15 lbs. Waktu yang diperlukan tergantung banyak sedikitnya bahan atau medium yang distreilkan, umumnya berkisar antara 15 sampai 20 menit. (Dra. Ni Putu Ristiati, 2000: 104).
Sterilisasi secara fisik pada pokoknya dibedakan menjadi 2 macam, yaitu secara kering dan secara basah. Sterilisasi secara kering dapat secara langsung pemanasan dengan mempergunakan udara panas. Yang mempergunakan udara panas alatnya disebut hot air sterilizer, dipergunakan untuk menyeterilkan alat – alat yang tahan panas, misalnya alat – alat dari gelas, pipet, dan lain – lain. Dengan alat ini, temperatur digunakan bersuhu 110o – 180o C, lamanya 2 jam. (Drs. Jeneng Tarigan, 1988: 305)
a)     Sterilisasi Kering
Sterilisasi kering dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut,
a.   Pemijaran
Pemijaran diterapkan pada ose ujung – ujung pinset, dan sudip (spatula) logam.
b.   Jilatan Api (Flaming)
Jilatan api diterapkan terhadap skalpel, jarum, mulut tabung biakan, kaca objek, dan kaca penutup. Benda – benda ini dijilatkan pada api bunzen tanpa membiarkannya memijar. Dapat juga dilakukan dengan mencelupkannya ke dalam spiritus bakar, kemudian dibakar. Tetapi cara ini tidak menghasilkan suhu yang cukup tinggi untuk sterilisasi. Cara ini sering diterapkan terhadap permukaan baskom dan mortir.
c.      Tanur Uap Panas (Hot – Air Oven)
Sebagian besar sterilisasi dilakukan dengan alat ini. Biasanya digunakan suhu 160o – 165o selama 1 jam. Cara ini baik dilakukan terhadap alat – alat kering terbuat dari kaca seperti tabung reaksi, pinggan petri, labu, pipet, pinset, skalpel, gunting, kapas hapus tenggorok,, alat suntik dari kaca. Juga diterapkan terhadap bahan-bahan kering  dalam tempat-tempat tertutup, bahan serbuk (talk, dermatol), lemak minyak. Penyusupan panas ke dalam bahan-bahan ini berjalan lambat sekali karena itu harus disterikan dalam jumlah sedikit dan dalam lapisan tipis tidak lebih dari 0,5 cm dalam pinggan petri. Kadang-kadang dilakukan sterilisasi pada suhu 170oC selama 2 jam(Dr. Koes Irianto, 2007: 86).

Description: autoclave1.jpg
Gambar 1. Autoclave
b)     Sterilisasi basah ada 2 macam yaitu yang menggunakan tekanan lebih besar dan yang tidak menggunakan tekanan. Yang menggunakan tekanan alatnya disebut autoclave dan alat-alat yang disterilkan dengan autoclave  ialah media-media, alat-alat, dari gelas dan untuk cairan yang tahan pada temperatur tinggi. Untuk alat ini biasa digunakan tekanan 2 atmosfer dengan suhu 121,6o selama 25-30 menit. Alat sterilisasi basah yang tidak menggunakan tekanan adalah Arnold Steam Sterilizer digunakan untuk sterilisasi media-media atau cairan yang tidak tahan panas(Drs. Jeneng Tarigan, 1988: 305-306).

2)   Sterilisasi secara Kemis (Kimiawi)
Banyak bahan untuk pembuatan media biakan terlalu peka terhadap panas untuk disterilisasi di dalam  autoclave. Untuk bahan demikian, metode sterilisasi kimiawi yang dapat diandalkan akan bermanfaat sekali. Syarat utama sebagai bahan untuk sterilisasi ialah bahwa zat kimia itu harus mudah menguap dan bersifat racun, sehingga dapat segera dihilangkan dari benda yang akan disterilisasi setelah perlakuan(Roger Y. Strainer, 1982: 44).
Senyawa kimia yang banyak digunakan adalah larutan CuSO4, AgNO3, HgCl2, dan ZnO serta alkohol dengan kadar antara 50-75% karena cepat menyebabkan koagulasi protein mikroba. Larutan garam seperti NaCl (9%), KCl(11%), dan KNO3(10%) dapat dipergunakan karena tekanan osmotiknya yaitu dehidrasi protein pada substrat. Sedang asam kuat dan basa kuat dapat digunakan karena dapat menghidrolisis isi sel mikroba. Larutan KMnO4(10%) dan HCl(1,1%) dapat mengoksidasi substrat. Sedang larutan CuSO4 digunakan untuk algisida. Khlor dan senyawa khlor digunakan sebagai desinfektan terutama pada tempat penyimpanan air. Juga  larutan formalin atau formaldehida dengan kadar antara 4-20%(Dra. Ni Putu Ristiati, 2000: 104).
Khlor dan senyawa khlor lainnya banyak dipergunakan sebagai desinfektan terutama pada tempat penyimpanan air. Ini disebabkan kalau seyawa tersebut terkena air maka akan terjadi reaksi:
Cl2 + H2O                HCl + HOCl
HOCl                      HCl+  + On
Dan On inilah yang mempunyai daya oksidasi kuat untuk membunuh mikroba(Unus Suriawiria, 1986: 66).

3)   Sterilisasi secara Mekanik
Untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi maupun tekanan tinggi akan mengalami perubahan atau penguraian, sterilisasinya harus dilakukan secara mekanik, misalnya dengan saringan. Di dalam bidang mikroba, penyaringan secara fisik yang paling banyak digunakan ialah dengan filter khusus, misal filter Berkefeld,filter  Chamberland, filter Seitz. Jenis filter mana yang mau dipergunakan, tergantung kepada tujuan penyaringan dan benda yang akan disaring.
Pada saat ini yang paling banyak digunakan adalah filter Chamberland dan Berkefeld yang mempunyai ukuran porositas filter V (viel atau kasar), N (normal), dan W (weing atau halus).
Tipe-tipe filter yang digunakan dapat berbentuk filter selulosa, Seitz, gelas ataupun porselen. Sedang cara penggunaan filter umumnya dilakukan sebagai berikut:
a.   Filter dimaksud ditempatkan antara corong dan penghubung, kemudian diikat.
b.   Alat-filter kemudian ditempatkan di atas botol penampung hasil yang dihubungkan dengan pompa hampa-udara (pompa vakum).
c.   Larutan yang akan disaring akan didapatkan pada botol penampung.
Kadang-kadang pengganti pompa-vakum dipergunakan juga aliran air sebagai alat penghisap. Filter yang sudah digunakan dapat dipergunakan lagi untuk memeriksa kandungan mikroba yang terdapat di dalam larutan.
a.   Filter yang sudah disiapkan untuk menyaring, diangkat, kemudian ditanamkan ke dalam medium yang sudah disiapkan di dalam cawan petri.
b.   Setelah masa pengeraman, pertumbuhan koloni mikroba yang terjadi dihitung atau diamati lebih lanjut.
Sistem kerja filter, seperti pada saringan yang lain ialah melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat(di sini mikroba)(Unus Suriawiria, 1986: 68).
Description: chamberland-pasteur.jpg                                 Description: seitz-filter.jpg
Gambar 2. Filter Chamberland                      Gambar 3. Filter Seitz


C.    ALAT DAN BAHAN

-       Autoclave (Atomatic Steam Sterilisation)
-       Petridish
-       Tabung reaksi
-       Erlenmeyer
-       Ose
-       Drigalsky
-       Lampu Bunsen
-       Laminar flow
-       Oven
-       Kertas Payung


D.    LANGKAH KERJA         
Langkah kerja pada pembungkusan alat
1.   Menyediakan alat dan bahan
2.   Membungkus petri dish atau cawan petri dengan menggunakan kertas payung dan mengikatnya dengan karet
3.   Membuat penutup tabung reaksi dan tabung erlemeyer dengan menggunakan kapas sampai rapat.
4.   Membungkus penutup dari kapas pada tabung reaksi dan tabung erlemeyer dengan menggunakan kertas payung.

Langkah kerja pada sterilisasi dengan menggunakan autoclave.
1.   Sebelum melakukan sterilisasi praktikan harus mengecek banyaknya air dalam autoclave.
2.   Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut.
3.   Masukkan peralatan dan bahan yang akan disterilisasi
4.   Menutup autoclave dengan rapat lalu mengencangkan baut pengaman  dengan cara memutar baut yang berada di atas autoclave tersebut secara bersamaan pada masing-masing sisi agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoclave.
5.   Menyalakan autoclave dan mengatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.
6.   Praktikan menunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoclave dan terdesak keluar dari klep pengaman.
7.   Kemudian klep pengaman ditutup.
8.   Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka praktikan harus menunggu sampai jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol. Yang berarti menunjukkan bahwa tekanan dalam kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan.
9.   Kemudian baut-baut dibuka dan praktikan mengeluarkan isi autoclave.
E.     PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dalam kegiatan 11 membahas tentang pengenalan alat-alat dalam laboratorium mikrobiologi dan teknik sterilisasi. Mikrobiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari kehidupan makhluk yang bersifat mikroskopik. Yang disebut mikroorganisme atau jasad renik, yaitu makhluk yang mempunyai ukuran sel sangat kecil dimana setiap selnya hanya dapat dilihat dengan pertolongan mikroskop.
Alat-alat yang digunakan dalam perkembangbiakan ini pun harus disterilisasikan terlebih dahulu. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak ada mikroorganisme lain, yang tidak diinginkan, tumbuh dalam media tersebut, sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang akan dibiakkan dalam media tersebut.
Alat-alat sterilisasi meliputi Autoclave, Oven, Ozonsterilizer, dan Lampu Spritus. Oven merupakan alat sterilisasi dengan menggunakan udara panas kering, dimana oven berfungsi mensterilisasi alat-alat gelas yang tidak bersekala. Prinsip dari oven ini sendiri adalah menghancurkan lisis mikroba menggunakan udara panas kering. Namun pada kegiatan 11 yang praktikan gunakan hanya autoclave saja.
Alat-alat yang digunakan dalam laboratorium mikrobiologi antara lain :
1.     Autoclave
Autoclave adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121oC (250oF). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 121oC.
Autoclave berfungsi mensterilisasikan alat-alat bersekala menggunakan uap air panas. Dimana uap air panas akan merusak protein mikroba hingga mengalami koogulasi, pada saat itu protein akan mengendap (denaturasi) dan menyebabkan kematian pada mikroba. Saat penggunaan autoclave penutupan harus benar-benar rapat agar uap air yang bertekanan tinggi masuk kedalam atau bereduksi ke alat.
Bagian-bagian dari autoclave adalah sebagai berikut :
· Description: D:\data ryani\BIOLOGI\laporan\DSC01597.JPG        Description: clip_image020
a. Autoclave                                b. bagian-bagian Autoclave
Keterangan :

1.  Tombol pengatur waktu mundur (timer)
2. Katup pengeluaran uap
3. pengukur tekanan
4. kelep pengaman
5. Tombol on-off
6. Termometer
7. Lempeng sumber panas
8. Aquades (dH2O)
9. Sekrup pengaman
10. batas penambahan air


Penggunaan autoclave :Sebelum melakukan sterilisasi mengecek dahulu banyaknya air dalam autoclave. Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Air yag digunakanadalah air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.setelah itu memasukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol beretutup ulir, maka tutup harus dikendorkan.setelah semua alat yang ingin disterilisasikan dimasukkan autoclave maka autoclave di tutup dengan rapat lalu mengencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoclave. Klep pengaman tidak dikencangkan terlebih dahulu. Selanjutnya menyalakan autoclave, dan  timer diatur dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC. Menunggu samapai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoclave dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Menarik supaya katup pengeluaran uap tertutup dan uap yang ada pada autoclave tidak keluar. Penghitungan waktu 15 menit dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tekanan dalam kompartemen ditunggu turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan isi dalam autoclave dikeluarkan dengan hati-hati.
2.     Cawan Petri (Petri Dish)
Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium dapat dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan petri tersedia dalam berbagai macam ukuran, ada yang biasa dengan diameter 5 cm dan cawan tersebut dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan yang berdiameter 9 cm dapat menampung media sebanyak 10 ml.


3.     Tabung Reaksi
Description: F:\Foto1082.jpg
Di dalam mikrobiologi, tabung reaksi digunakan untuk uji-uji biokimiawi dan menumbuhkan mikroba. Selain itu tabung reaksi juga dapat digunakan dalam bermacam-macam kegiatan seperti mencampur atau memanaskan larutan dalam jumlah kecil.
Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil. Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya, yaitu media agar tegak (deep tube agar) dan agar miring (slants agar). Untuk membuat agar miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media yaitu luas permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak terlalu lebar dan hindari jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena memperbesar resiko kontaminasi.







4.     Labu Erlenmeyer
Description: F:\Foto1082.jpg 
         Berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang. Labu Erlenmeyer dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung akuades, kultivasi mikroba dalam kultur cair. Terdapat beberapa pilihan berdasarkan volume cairan yang dapat ditampungnya yaitu 25 ml, 50 ml, 100 ml, 250 ml, 300 ml, 500 ml, dan 1000 ml. Untuk ukuran yang 50 – 2000 ml, digunakan untuk menyimpan larutan atau zat kimia, memanaskan zat cair, untuk menampung destilat dan sebagainya. Bila berisi larutan yang steril maka labu harus ditutup.
      Labu erlenmeyer berfungsi sebagai tempat penyimpanan medium, memanaskan larutan, dan menampung hasil dari penyaringan. Alat ini dapat disterilisasikan dengan ditutup terlebih dahulu bagian atas dengan kapas, lalu disterilisasi dengan menggunakan autoclave.

5.     Coloni counter
Coloni counter merupakan alat yang berfungsi sebagai penghitung jumlah mikroba pada cawan petri menggunakan sinar dan luv. Perhitungan mikroba dapat dilakukan dengan perbesaran menggunakan luv atau dengan menandai beberapa koloni yang terdapat pada cawan petri menggunakan bulpoint yang terdapat pada coloni counter dan juga menggunakan tombol check.
6.     Bunsen/ lampu spritus
Bunsen/ lampu spritus adalah  untuk sterilisasi sistem panas yang tinggi. Alat ini digunakan untuk memanaskan dan untuk mensterilisasikan mikroba. Bunsen/ lampu spritus juga digunakan untuk, mengamankan praktikan pada saat melakukan penanaman medium.
7.     Inokulasi Ose
Inokulasi ose adalah alat untuk menyebarkan bakteri pada media agar. Inokulasi Ose berfungsi untuk mengambil dan menggores,. Alat ini terdiri dari ose lurus untuk menanam dan ose bulat untuk menggores yang biasanya berbentuk zig-zag.
8.     Beker gelas
Beker gelas merupakan alat yang memiliki banyak fungsi, salah satunya adalah untuk menampung larutan atau dalam praktikum ini dapat digunakan dalam perebusan agar, yang nantinya akan digunakan dalam pembuatan media.
9.     Gelas ukur
Gelas ukur berguna untuk mengukur banyaknya larutan yang akan digunakan dalam praktikum ini. Misalnya dalam mengukur volume akuades yang digunakan untuk melarutkan agar dalam praktek pembuatan media. Fungsi dari beker gelas hampir sama dengan tabung erlenmeyer tapi, beker gelas tidak dapat menghomogenkan larutan secara sempurna, karena bentuk mulutnya tidak seperti pada mulut tabung erlenmeyer. Gelas ukur memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya. Gelas ukur yang berukuran 5 – 2000 ml, digunakan untuk mengukur larutan atau zat cair yang akan diperlukan sesuai dengan kebutuhan.
10.  Penyaring adalah alat untuk menyaring bahan media, biasanya dikombinasikan dengan kapas.
11.  Timbangan elektrik adalah alat yang digunakan untuk menimbang bahan pembuatan ekstrak
12.  Lup inokulasi adalah alat terbuat dari kawat yang digunakan untuk pembuat goresan pada media.
13.  Pipet adalah alat yang digunakan untuk mengambil larutan atau  untuk menambahkan larutan dalam jumlah tetes atau sedikit.
Alat-alat lain yang digunakan dalam laboratorium mikrobiologi misalnya: Drigalsky, Laminar flow, Oven, Tabung Durham, dan lain-lain.
Alat-alat diatas adalah alat yang akan digunakan dalam praktikum pembuatan media dan penanaman bakteri dan jamur. Alat-alat tersebut jika belum steril, maka tidak dapat digunakan dalam praktikum ini.
Tujuan dari sterilisasi adalah agar alat-alat terhindar dari kontaminan yang tidak diinginkan dan agar tidak mengganggu pertumbuhan mikroorganisme. Selain teknik sterilisasi dikenal juga teknik aseptis yang sangat penting dalam pengerjaan mikrobiologi yang memerlukan ketelitian dan keakuratan.
Sterilisasi merupakan hal yang penting dalam melakukan aktivitas laboratorium. karena mikroba kontaminan akan tumbuh bila tidak dilakukan sterilisasi. Dan hasil yang seharusnya diperoleh dari percobaan menggunakan kultur murni akan menyimpang bila tidak dilakukan sterilisasi.
Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu penggunaan panas (pemijaran dan udara panas); penyaringan; dan penggunaan bahan kimia (etilena oksida, asam perasetat, formaldehida dan glutaraldehida alkalin). Pada percobaan yang dilakukan, praktikan menggunakan alat pemanas bertekanan tinggi yang disebut autoclave
Dalam praktikum ini, praktikan menggunakan teknik sterilisasi, maka dari itu praktikan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.     Udara harus dikosongkan betul-betul dari ruang sterilisator karena sterilisasi bergantung pada uap.
2.     Tabung dan labu kosong harus diletakkan dalam posisi tidur agar udara tidak terperangkap di dasarnya karena semua bagian bahan yang disterilkan harus terkenai uap.
3.     Bahan-bahan yang berpori atau berbentuk cair harus permeabel terhadap uap.
4.     Suhu harus mencapai suhu 121 oC selama 15 menit agar panas dapat stabil.

F.     KESIMPULAN
Dalam praktikum ini alat-alat yag digunakan adalah :
1.     Alat-alat Sterilisasi : Autoclave, Oven, Lampu Bunsen.
2.      Alat-alat Perhitungan Koloni Mikroorganisme : Coloni counter.
3.     Alat-alat lainnya : Petri dish, Tabung Reaksi, Tabung Reaksi, Labu Erlenmeyer, Ose, Drigalsky, Laminar flow, Pipet, Tabung Durham, Coloni counter dan lain-lain.



















KEGIATAN 12
A.      TUJUAN
Mengenalkan cara membuat media untuk pertumbuhan mikroba ( bakteri dan jamur ).

B.      DASAR TEORI
Media adalah pembenihan atau substrat atau makanan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan suatu mikroorganisme. Media yang baik, dengan pemeliharaan mikroorganisme ialah yang mengandung unsure-unsur makanan yang diperlukan. Bahan-bahan yang disediakan untuk menumbuhkan mikroorganisme disebut kultur media. Sedangkan mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang biak pada suatu kultur media disebut kultur. (Suarsini,2000:14)
Macam-macam media pertmbuhan berdasarkan sifat fisiknya antara lain:
1.   Media padat
Yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat.
2.   Media setengah padat
Yaitu media yang mengandung agar 0,3% sampai0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, dan tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang.
3.   Media cair
Yaitu media yang tidak mengandung media agar.
(http://www.try4know.co.cc/2009/10/media-kultur-bakteri.html)
Selain itu juga terdapat jenis media lain berdasarkan fungsinya diantaranya:
1.   Media diperkaya
Yaitu media yang ditambah zat-zat tertentu sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme heterotrof tertentu
2.   Media selektif
Yaitu media yang ditambah zat kimia tertentu yang bersifat selekif untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme lain.
3.    Media diferensial
Yaitu media yang ditamabah reagensia atau zat kimia tertentu yang menyebabkan suatu mikroorganisme membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat membedakan tipe-tipenya.
4.   Media penguji
Untuk menguji asam amino, antibiotika, dan sebagainya.
5.   Media untuk perhitungan jumlah jamur.   
(Suyitno,2010:36)

C.      ALAT DAN BAHAN
1.       Alat : timbangan exhaust, Erlenmeyer, magnetic stirrer, hot plate, petridish, tabung reaksi, kapas.
2.       Bahan :
a.       Potato Dektrosa Agar ( PDA )
-          Kentang     
-          Dektrosa    
-          Agar           
-          Akuades     
b.       NA

D.    LANGKAH KERJA
1.     Cara membuat media PDA
a.      Mengupas kentang dan mencucinya hingga bersih, kemudian memotongnya menjadi kotak-kotak kecil (2X2 cm).
b.     Merebus potonga kentang tersebut dalam 500 mL akuades selama 1,5-2 jam.
c.      Menyaring campuran denga kain tipis berlapis kapas sehingga diperoleh cairan ekstrak kentang yang bening.
d.     Menambahkan dektrosa dan agar, memanaskan dan mengaduk hingga homogen.
e.      Menambahkan akuades hingga diperoleh volume akhir 1000 mL.
f.      Mensterilisasi dengan autoclave (1210 C : 15 menit).

E.     PEMBAHASAN
Pada kegiatan ke-12 dengan topik pembuatan media ini bertujuan untuk mengenalkan cara membuat media untuk pertumbuhan mikroba (bakteri dan jamur).
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun komponen sel. Dengan media pertumbuhan dapat dilakukan isolat mikroorganisme menjadi kultur murni dan juga memanipulasi komposisi media pertumbuhannya.
Bahan bahan yang digunakan dalam pembuatan media antara lain:
1.   Bahan dasar     
a.   Air (H2O) sebagai pelarut
b.   Pemadat media.
       Untuk memadatkan media maka dapat menggunakan Agar, gelatin dan silica gel. Namun dalam praktikum ini bahan yang digunakan adalah agar karena agar sulit didegredasika oleh mikroorganisme pada umumnya dan dapat mencair pada suhu > 45o..
2.   Nutrisi atau zat makanan
Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk metabolisme sel yaitu berupa unsur makro seperti C, H, O, N, P; unsur mikro seperti Fe, Mg dan unsur pelikan/trace element. Karena pada percobaan ini menggunakan media PDA dan NA maka untuk media PDA baham makanan yang digunakan adalah kentang.
3.   Bahan tambahan
Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium dengan tujuan tertentu, misalnya phenol red (indikator asam basa) ditambahkan untuk indikator perubahan pH akibat produksi asam organik hasil metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan mikroba non-target/kontaminan.
Media yang digunakan pada percobaan ini adalah PDA (Potato Dektrosa Agar) dan Nutrien Agar (NA).
1.   Media PDA (Potato Dextrose Agar)
 Pada percobaan kali ini praktikan tidak melakukan secara langsung saat membuat ekstrak kentang karena bahan tersebut sudah dibuat oleh laboran, tapi tidak ada salahnya jika praktikan juga mengetahui cara membuat ekstrak kentang yang akan dibuat sebagai media pertumbuhan.
Sebelum pembuatan media, alat-alat yang akan digunakan dalam pembuatan media harus dalam keadaan steril. Caranya, pertama, ujung Erlenmeyer dan ujung tabung reaksi ditutup menggunakan kapas hingga rapat. Kemudian Erlenmeyer, tabung reaksi, dan petridish dibungkus menggunakan kertas paying dan pada labu Erlenmeyer, dan tabung reaksi yang dibungkus mengunakan kertas payung hanyalah bagian atas tabung reaksi dan pada labu Erlenmeyer atau bagian tutupnya saja. Setelah semuanya ditutup menggunakan kertas dengan rapat, kemudian semua peralatan dimasukkan ke dalam autoclave (Automatic Steam Sterilisation).
Autoclave adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121oC (250oF). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 121oC.
Autoclave yang digunakan terbuat dari aluminium. Hal tersebut dikarenakan aluminium tidak mudah berkarat dan dapat mempertahankan panas secara stabil.
Pertama-tama autoclave diisi dengan air sampai batas, tetapi pada waktu praktek air yang digunakan hanya sekitar ¼ dari volume autoclave, lalu angsang diletakkan di dasar autoclave. Kemudian bejana dari autoclave diletakkan di dalam autoclave. Setelah itu satu per satu tabung reaksi, erlenmeyer, dan petridish yang telah dibungkus menggunakan kertas payung dimasukkan ke dalam bejana.
Sembari menunggu suhu dari autoclave naik seperti yang diinginkan, praktikan ditemani oleh laboran merebus agar yang telah dilarutkan dengan air dan dicampur dengan ekstrak kentang. Hal tersebut dilakukan dengan perebusan sampai mendidih supaya agar dapat benar-benar larut dan homogen. Setelah agar-agar mendidih kemudian agar dituang di dalam erlenmeyer, dan dimasukkan dalam autoclave.
Setelah semua tabung reaksi, erlenmeyer, petridish, dan agar dimasukkan ke dalam autoclave, maka autoclave ditutup dengan tepat, jangan sampai ada celah sedikitpun. Praktikan harus memastikan bahwa semuanya sudah benar-benar tertutup dengan rapat. Kemudian autoclave dikunci dengan cara memutar baut yang ada di samping atas autoclave. Praktikan menunggu sampai suhu autoclave mencapai suhu 1210C, atau sekitar 250o F. Kemudian alat pembuang uap yang berada di atas autoclave dibuka dan dibiarkan terbuka sampai proses sterilisasi selesai. Tujuan dari pembukaan ini yaitu agar uap pada autoclave hilang atau keluar. Pemasangan autoclave harus benar agar pemanasan dapat berlangsung dengan baik, karena apabila bocor sedikit pemanasan tidak akan dapat berlangsung.
 Media PDA merupakan Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti, misalnya PDA yang mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak kentang, kita tidak dapat mengetahui secara detail tentang komposisi senyawa penyusunnya.
Bahan utama dari media ini yaitu kentang, dekstrosa dan agar. Kentang dalam media ini berfungsi sebagai sumber makanan bagi  mikroba yang muncul atau dalam kata lain berguna untuk pertumbuhan mikroba. Kentang sebagian besar tersusun oleh karbohidrat, karbohidrat ini memperkaya pembentukan asam amino dan gas. Sedangkan fungsi dari agar dalam PDA yaitu sebagai pemadat. Berikut adalah cara pembuatan media PDA yang dilakukan dalam percobaan :
1.   Merebus kentang dengan air selama kurang lebih 2 jam.
2.   Kemudian air yang dihasilkan disaring dan diambil 250 ml dimasukkan ke dalam gelas kimia.
3.     Selanjutnya melakukan penambahan dektrosa  2,5 gram dan menambahkan agar 0,5% serta ditambahkan air sampai volume 250 ml. Kemudian melarutkannya hingga homogen
4.     Mengekstrak larutan dekstrosa dan agar
5.     Sebelum digunakan harus disterilisasi ke dalam autoclave. Bahan yang telah steril dituang ke dalam tabung reaksi dan diletakkan dalam suhu optimum.
Sebelum dilakukan sterilisasi, medium berawarna kuning, setelah disterilisasi dalam autoclave medium berwarna kecoklatan dan didapat endapan berwarna putih. Setelah didinginkan beberapa saat, medium dapat ditanami bakteri (Schegel, 1993).
PDA digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dapat juga digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk makanan. PDA mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri.

2.   Media NA (Nutrien Agar)
NA digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Pembuatan medium Nutrien Agar (NA) menggunakan bahan utama beef ekstrak 5 g, peptom 3 g dan agar 3 g. Pada awal pengamatan medium Nutrien Agar, sebelum proses sterilisasi berwarna kuning, setelah sterilisasi warna medium menjadi agak coklat. Pada pembuatan medium NA ini ditambahkan pepton agar mikroba cepat tumbuh, karena mengandung banyak N2 (Dwidjoseputro, 1994). Agar yang digunakan dalam proses ini untuk mengentalkan medium sama halnya dengan yang digunakan pada medium PDA yang juga berperan sebagai media tumbuh yang ideal bagi mikroba (Schlegel, 1993). Akan tetapi pada percobaan ini praktikan tidak melakukan pembuatan NA karena sudah tersedia dari laboratorium.

F.     KESIMPULAN
Pembuatan media ada dua cara, yaitu dengan PDA(Potato Dextrosa Agar) dan NA (Nutrient Agar)



KEGIATAN 13
A.    TUJUAN :
1.     Mengenalkan cara isolasi mikroba
2.     Mengamati perbedaan morfologi bakteri dan jamur

B.    DASAR TEORI
Banyak bahan-bahan atau benda-benda yang mengandung berbagai macam bacteria, misalnya nanah (pus), dahak, urine, dan lain-lain. Suatu kultur yang mengandung lebih dari satu jenis mikroba, disebut kultur campuran (mixed culture). Apabila kultur ini ditumbuhkan pada media padat akan selalu menunjukkan berjenis-jenis koloni dari mikrobia. Apabila kita ingin mempelajari satu jenis mikrobia tertentu dari suatu kultur campuran, maka kita dapat mengambilnya dengan sebuah jarum steril yang disentuhkan pada bagian koloni yang akan diselidiki dan sampel tersebut dipindahkan ke suatu media yang steril agar tidak kena kontaminasi dengan mikroba lain. Mikrobanya akan tumbuh dengan baik pada kultur murni, yaitu suatu kultur yang hanya dapat ditumbuhi oleh satu macam atau jenis mikroba saja. (Drs. Jeneng Tarigan, 1988: 119)
Secara alami, mikroorganisme di alam ditemukan dalam populasi campuran. Hanya dalam keadaan tertentu saja populasi ini ditemukan dalam keadaan murni. Untuk dapat mempelajari sifat biakan, morfologi, dan sifat faali, maka mikroorganisme yang akan diteliti harus dapat dipisahkan. Hal ini berarti bahwa harus diperoleh biakan murni yang hanya mengandung satu macam mikroorganisme.
Untuk memperoleh biakan murni dapat dilakukan pengenceran dengan menggunakan bahan cair atau bahan padat. Pada mulanya digunakan gelatin sebagai bahan padat. Gelatin terdiri dari protein sehingga dapat dicerna atau dicairkan oleh mikroorganisme. Bahan pemadat yang kemudian ditemukan adalah agar, yang merupakan polisakarida dari rumput laut. Agar dapat mencair pada suhu 1000C, sedangkan pada suhu 440C masih dalam bentuk cair. Suhu ini masih memungkinkan mikroorganisme dapat tumbuh, sehingga prinsip ini dipakai untuk mengisolasi bakteri dengan agar tuang. Pada umumnya mikroorganisme tidak dapat mencerna atau mencairkan agar.
Isolasi mikroba adalah memisahkan mikroba satu dengan mikroba lain yang berasal dari campuran berbagai mikroba. Mengisolasi mikroba dengan cara menumbuhkan (menanam) dalam medium padat. Hal ini karena dalam medium padat, sel-sel mikroba akan membentuk koloni yang tetap pada tempatnya. Sel mikroba yang tertangkap pada mendium padat pada beberapa tempat yang terpisah, maka sel atau kumpulan sel mikroba yang hidup akan berkembang menjadi suatu koloni yang terpisah.
Bagaimana cara mengisolasi mikroba dalam medium cair? Bila kita menggunakan medium cair, maka sel-sel mikroba sulit dipisahkan secara individu karena terlalu kecil dan tempatnya tidak tetap. Tetapi kita dapat mengisolasi mikroba dalam medium cair dengan cara pengenceran. Kemudian kita tumbuhkan dalam medium padat dan dibiarkan membentuk koloni. Selanjutnya sel-sel mikroba tersebut diisolasi dalam tabung-tabung reaksi atau cawan Petri yang terpisah. Isolasi dapat dilakukan dengan cara penggoresan dan cara penaburan. (Lud Waluyo, 2008: 177-178)
Pekerjaan memindahkan mikrobe dari medium lama ke medium yang baru harus dilaksanakan secara teliti. Terlebih dahulu harus diusahakan agar semua alat-alat yang sangkut paut dengan medium dan pekerjaan inokulasi (penanaman) itu benar-benar steril; hal ini untuk menghindarkan kontaminasi, yakni masuknya mikroorganisme yang tidak kita inginkan.
Beberapa langkah pada pekerjaan inokulasi dan isolasi mikrobe adalah sebagai berikut:
1.    Menyiapkan ruangan.
Ruangan tempat inokulasi hatus bersih dan bebas angina. Dinding ruangan yang basah menyebabkan butir-butir debu menempel. Pada waktu mengadakan inokulasi, baik sekali bila meja tempat inokulasi didasari dengan kain basah. Pekerjaan inokulasi dapat dilakukan dalam suatu kotak berkaca (ent-kas). Di labolatorium untuk membuka vaksin, serum, dan sebagainya, udara yang masuk ke dalam ruangan dilewatkan saringan yang disinari dengan sinar ultra-ungu.
2.     Pemindahan dengan kawat inokulasi.
Ujung kawat inokulasi sebaiknya dari platina atau nikrom; ujung kawat boleh lurus, boleh juga berupa kolongan yang berdiameter 1-3 mm. Lebih dahulu ujung kawat ini dipijarkan, sedang sisanya sampai tangkai cukup dilewatkan nyala api saja. Setelah dingin kembali, ujung kawat itu disentuhkan suatu koloni. Mulut tabung tempat pemiaraan itu dipanasi juga setelah sumbatnya diambil. Setelah pengambilan inokulum (sampel bakteri) selesai, mulut tabung dipanasi lagi kemudian disumbat seperti semula. Ujung kawat yang membawakan inokulum tersebut digesekkan pada medium baru atau pada suatu kaca benda, kalau tujuannya memang akan membuat suatu sediaan.
3.     Pemindahan dengan pipet.
Cara ini dilakukan misalnya pada penyelidikan air minum atau penyelidikan susu. Untuk itu diambillah 1 ml contoh (sampel) untuk diencerkan dengan 99 ml air murni yang disterilkan. Dalam pengenceran ini tergantung dari keadaan air atau susu yang diselidiki. Kemudian diambil 1 ml dari enceran ini untuk dicampuradukkan dengan medium agar-agar yang masih dalam keadaan cair. Lalu agar-agar yang masih encer ini dituangkan di cawan petri. Setelah agar-agar membeku, maka cawan petri yang berisi piaraan baru itu disimpan dalam tempat yang aman, misalnya di dalam inkubator. Penyimpanan cawan dilakukan secara terbalik, yakni permukaan medium menghadap ke bawah, hal ini untuk menghindari tetesnya air yang mungkin melekat pada dinding dalam tutup cawan. Piaraan yang diperoleh dengan jalan seperti tersebut di atas, terkenal dengan nama piaraan adukan. Dengan cara ini bakteri yang diinokulasi tadi dapat menyebar luas keseluruh medium. Bakteri yang aerob maupun anaerob dapat tumbuh di situ, dan banyaknya banyaknya koloni dapat dihitung dengan mudah. (Lud Waluyo, 2008: 178-180)
Di alam bebas tidak ada mikrobe yang hidup tersendiri terlepas dari spesies yang lain. Sering kali mikrobe patogen kedapatan secara bersama-sama, dengan mikrobe satroba (sakrobakteri). Dalam teknik biakan murni tidak saja diperlukan bagaimana memperoleh suatu bakteri murni, tetapi juga bagaimana memelihara serta mencegah pencemaran dari luar. Medium untuk membiakan mikrobe haruslah steril sebelum digunakan. Pencemaran (kontaminasi) dari luar terutama berasal dari udara yang mengandung banyak mikroorganisme (Lud Waluyo, 2008: 180)
Untuk mengadakan isolasi mikroba dari suatu media dapat digunakan beberapa perangkat prosedur antara lain adalah :
a.     Metode taburan (pour plate method)/cara penuangan
b.    Metode sebaran (spread plate method)/ cara pengenceran
c.     Metode goresan (streak plate method)/ cara penggesekan
(Drs. Jeneng Tarigan, 1988: 119)
a.     Metode taburan (pour plate method)/cara penuangan
Penggunaan media padat dalam teknik isolasi bakteri dalam kultur murni, merupakan suatu prosedur yang baik dan sederhana. Dalam metode taburan ini, suspensi bakteri dalam cairan dicampur dengan “agar” yang sudah dileburkan pada suhu kira-kira 500C. Kemudian agarnya dituangkan ke dalam piring petri, dibiarkan mendingin supaya membeku dan diinkubasikan. Dalam metode ini bakteri akan tumbuh membentuk koloni di bawah atau di atas permukaan agar. Koloni ini diambil 1 ose (1 loop) dan disuspensikan lagi pada media dalam piring petri yang steril dan cara ini dilakukan sampai beberapa kali, sehingga pada satu piring petri hanya terdapat satu jenis mikroba. (Drs Jeneng Tarigan, 1988: 119)
Prinsip melakukan pengenceran adalah menurunkan jumlah mikroorganisme sehingga suatu saat hanya ditemukan satu sel dalam suatu tabung. (Lud Waluyo, 2008: 181)
b.     Metode sebaran (spread plate method)/ cara pengenceran
Untuk anaerob yang lebih peka terhadap oksigen, lebih disukai modifikasi metode biakan kocok pengenceran. Sebuah tabung berisi agar cair lagi dingin diinokulasikan dan dicampurkan, dan kira-kira sepersepuluh dari isinya dipindahkan ke tabung kedua, lalau dicampurkan dan digunakan untuk menginokulasikan tabung ketiga dengan cara yang sama. Setelah 6-10 kali dipersiapkan pengenceran yang berturut-turut, tabung itu dengan cepat didinginkan dan ditutup rapat dengan menuangkan selapis minyak ter dan paraffin yang steril pada permukaannya, jadi mencegah masuknya udara pada gumpalan agar dank arena itu tidak mudah dicapai untuk dipindahkan. (Roger Y. Stainer, 1982: 36)
c.      Metode goresan (streak plate method)/ cara penggesekan
Cara gores pada umumnya merupakan metode semai yang paling berguna. Dawai bengkok yang steril dicelupkan ke dalam suspensi organisme yang diencerkan, lalu dibuat serangkaian goresan sejajar yang tidak saling menutupi di atas permukaan agar yang telah padat inokulum menjadi makin encer dengan setiap goresan yang berturut-turut, sehingga biarpun goresan pertama menghasilkan pertumbuhan yang rapat, koloni yang terisolasi dengan baik tumbuh di sepanjang garis yang lebih kemudian digoreskan. (Roger Y. Stainer, 1982: 35)
Ada beberapa teknik penggesekan, yakni:
a.   Goresan T
Ø Lempengan dibagi menjadi 3 bagian dengan huruf T pada bagian luar dasar cawan petri.
Ø Inokulasi daerah I sebanyak mungkin dengan gerakan sinambung.
Ø Panaskan ose dan biarkan dingin kembali.
Ø Gores ulang daerah I sebanyak 3-4 kali dan teruskan goresan di daerah II
Ø Pijarkan kembali ose dan biarkan dingin kembali.
Ø Prosedur di atas diulangi untuk daerah III.
b.   Goresan kuadran, teknik ini sama dengan goresan T, hanya lempengan agar dibagi menjadi 4.
c.   Goresan radian
Ø Goresan dimulai dari bagian pinggir lempengan.
Ø Pijarkan sekelit dan dinginkan kembali.
Ø Putar lempengan agar 900 dan buat goresan terputus dimulai dari bagian pinggir lempengan.
Ø Putar lempengan agar 900 dan buat goresan terputus di atas goresan sebelumnya.
Ø Pijarkan ose
d.  Goresan sinambung
Ø Ambil satu masa ose suspensi dan goreskan setengah permukaan lempengan agar.
Ø Jangan pijarkan ose, putar lempengan 1800, gunakan sisi mata ose yang sama dan gores pada sisa permukaan lempengan agar.

Perbedaan Morfologi Bakteri dan Jamur
Berdasarkan bentuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu
1.     Kokus (coccus) adalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola, dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:
a)     Micrococcus (kecil dan tunggal)
b)     Diplococcus (berganda tunggal)
c)     Tetracoccus (berganda empat dan membentuk bujur sangkar)
d)     Sarcina (bergerombol membentuk kubus)
e)     Staphylococcus (bergerombol)
f)      Streptococcus (bergandengan membentuk rantai)
2.     Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder,
a)     Diplobacillus (bergandengan dua-dua)
b)     Streptobacillus (bergandengan membentuk rantai)
3.     Spiril (Seirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung
a)     Vibrio (bentuk koma/lengkung kurang dari setengah lingkaran)
b)     Spiral (lengkung lebih dari setengah lingkaran)

Fungi/jamur
Prokariota/bakteri
Eukariotik
Prokariotik
Membran inti
Tidak memiliki membran inti
Kromosom ganda
Kromosom tunggal
Mitokondria, organel
Hanya sedikit memiliki struktur internal
Tipe dinding sel (selulosa, kitin)
Dinding sel: peptidoglikan
Dua tipe ribosom: 705 dan 805
Tipe ribosom hanya 705
Multiseluler
Biasanya uniseluler
Reproduksi seksual
Hampir semua reproduksi aseksual
Diameter sel > 5µm
Diameter sel < 5µm
Structural diversity
Metabolic diversity
Tabel 1. Perbedaan Bakteri dan Jamur
Description: 200px-ChampignonMushroomJamur adalah semua anggota kerajaan fungi atau sinonim dari kapang. Bentuk umum jamur biasanya adalah seperti payung.



Kapang lendir (Mycomycetes) merupakan sekumpulan mikroorganisme renik mempunyai ciri-ciri serta daur hidup morfogenetik (berubah bentuk) seperti amoeba. (http://massofa.wordpress.com/2008/02/05/mikroorganisme-bakteri-dan-virus)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikrobia (bakteri dan jamur) adalah sebagai berikut :
1)     Substrat, yaitu merupakan sumber nutrient utama. Nutrient-nutrien baru dapat dimanfaatkan sesudah mereka mengekskresikan enzim-enzim ektra seluler yang dapat mengurai senyawa-senyawa konplek menjadi senyawa yang lebih sederhana.
2)     Kelembaban, factor ini penting untuk pentumbuhan mikrobia karena pada umumnya mikrobia hidup pada lingkungan dengan kelembapah yang rendah.
3)     Suhu, factor ini sangat penting untuk pertumbuhan mikrobia karena biasanya pada suhu tinggi bakteri dan jamur akan sulit tumbuh karena enzim-enzim di dalam tubuhnya mengalami kerusakan. Sehingga umumnya mereka hidup pada suhu yang rendah.
4)     Derajat keasaman lingkungan (pH), untuk mikrobia bakteri dan jamur biasa tumbuh pada pH yang rendah, umumnya jamur dan bakteri tumbuh dengan baik pada pH di bawah 7.

C.     ALAT DAN BAHAN
1.     ALAT : - petridish
- ose
- drigalsky
2. BAHAN : - media PDA (Potato Dextrose Agar)
- media NA (Nutrient Agar)

D.   LANGKAH KERJA
1.    Masing-masing kelompok mengambil media dalam petridish yang telah dibuat
2.    Meletakkan petridish di atas meja dan membukanya ± 15 menit
3.    Menangkap mikroba dilakukan di dalam ruangan dan di luar ruangan
4.    Menginkubasi secara terbalik pada temperatur optimum selama 36 jam
5.    Menyimpan dalam lemari pendingin, melakukan pengamatan pertumbuhan bakteri dan jamur pada praktikum selanjutnya
6.    Mengamati bakteri dan jamur yang tumbuh secara makroskopis




E.    DATA HASIL PENGAMATAN
No
Gambar
Keterangan
1.
Description: C:\Users\Lenovo\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\Foto1116.jpg
Proses penangkapan PDA dalam
2.
Description: F:\Foto1118 - Copy.jpg
Proses penangkapan NA dalam
3.
Description: Na dlam ruang
Hasil penangkapan NA dalam
4.
Description: 07052010342
Hasil penangkapan NA luar
5.
Description: Pda dalm
Hasil penangkapan PDA dalam
6.
Description: 070520101275
Hasil penangkapan PDA luar

F.     PEMBAHASAN
Pada percobaan kegiatan ke-13 dengan topik teknik isolasi ini bertujuan untuk mengenalkan cara isolasi mikroba dan mengamati perbedaan morfologi bakteri dan jamur.
Sebelum melakukan isolasi, hal yang harus dilakukan adalah menangkap mikroba terlebih dahulu, yaitu dengan membuka media PDA dan media NA pada  lingkungan yang berbeda yang pertama pada lingkungan dalam ruangan laboratorium mikrobiologi dan yang kedua adalah di luar ruangan laboratorium mikrobiologi. Masing-masing 1 buah media PDA dan 1 buah media NA. Setelah ditangkap, mikroba disimpan dan diinkubasikan secara terbalik selama ± 48 jam. NA di sini digunakan untuk menumbuhkan bakteri sedangkan PDA digunakan untuk menumbuhkan jamur.
Untuk hasil penangkapan kami memperoleh hasil sebagai berikut. Pada NA luar terdapat 48 koloni, 16 koloni jamur dan 32 koloni bakteri, ciri-cirinya yaitu warnanya putih, kuning, dan orange. Untuk NA dalam terdapat 58 koloni,7 koloni jamur dan 51 koloni bakteri, ciri-cirinya berbintik kuning. Pada NA luar terdapat koloni bakteri dan dan jamur yang lebih sedikit tetapi jenisnya lebih banyak dibandingkan dengan bakteri dan jamur yang terdapat pada NA dalam. Hal tersebut agak kurang sesuai dengan teori, yang seharusnya jika NA yang ditaruh dalam luar ruangan maka jenis dan banyaknya akan terlihat lebih banyak dibandingkan NA yang ditaruh dalam ruangan, tetapi dalam hasil percobaan diketahui bahwa  hanya jenisnya yang lebih banyak di bandingkan NA yang di dalam, sedangkan banyaknya lebih banyak terdapat pada NA yang di dalam. Hal itu mungkin disebabkan karena di dalam ruangan itu terdapat banyak orang yang bisa saja menyebar bakteri-bakteri, contohnya orang yang sedang terkena flu dan batuk.
Pada PDA dalam terdapat 18 koloni, 10 koloni bakteri dan 8 koloni jamur, di antaranya sudah berspora dan berwarna selang-seling biru putih biru yang dalam teori dinamakan growth zone, sedangkan pada PDA luar terdapat 280 koloni, 250 koloni bakteri dan 30 koloni jamur, 3 diantaranya sudah berspora. Untuk PDA luar kita dapatkan koloni jamur yang lebih banyak dan jenisnya juga lebih beragam dibandingkan dengan PDA dalam. Hasil yang praktikan peroleh relatif sama dengan teori, yang intinya koloni jamur lebih banyak ditemukan pada PDA yang ditaruh di luar. Pada PDA luar dan PDA dalam terdapat titik-titik air pada cawan petri atau petri dish, tetapi jumlahnya lebih banyak terdapat pada PDA dalam. Titik-titik air itu menunjukkan aktivitas metabolisme dari mikroba yang terdapat di dalamnya. Titik-titik air lebih banyak pada PDA luar, hal itu disebabkan karena mikroba yang terdapat pada PDA luar lebih banyak daripada mikroba yang terdapat pada PDA dalam.
Pada percobaan ini, antara media PDA dan NA yang di dalam ruangan dengan yang di luar ruangan jumlah koloni mikroba yang dihasilkan berbeda. Di luar ruangan memiliki jumlah koloni yang lebih banyak daripada dengan media yang berada di dalam ruangan. Hal ini dikarenakan oleh keadaan yang berbeda antara di dalam ruangan dengan yang berada di luar ruangan. Udara di luar ruangan lebih heterogen karena langsung terhubung dengan udara bebas, sehingga banyaknya mikroba yang berkeliaran di udara lebih besar. Selain itu, banyaknya intensitas cahaya matahari dan suhu juga mempengaruhinya. Di dalam ruangan, intensitas cahaya matahri yang terukur adalah 0,15 candela dan suhunya adalah 280 C. Di luar ruangan intensitas cahaya matahari yang terukur adalah 4,24 candela dengan suhu 270 C. Suhu udara antara di dalam ruangan dengan yang berada di luar ruangan, hasil pengukuran menunjukkan lebih rendah yang berada di luar ruangan. Berdasarkan literatur, mikroba dapat tumbuh secara maksimal pada suhu yang lebih rendah. Sehingga pada luar ruangan yang suhunya lebih rendah lebih banyak ditemukan mikroba.
Substrat, yaitu merupakan sumber nutrient utama. Nutrient-nutrien baru dapat dimanfaatkan sesudah mereka mengekskresikan enzim-enzim ektra seluler yang dapat mengurai senyawa-senyawa konplek menjadi senyawa yang lebih sederhana. Jumlah koloni yang didapatkan pada media PDA lebih banyak jika dibandingkan dengan media NA. Hal ini disebabkan oleh bahan dari keduanya yang berbeda. Pada PDA terbuat dari bahan-bahan alami sedangkan NA termasuk dalam bahan semi sintetik. Pada media yang alami bahan-bahan yang terkandung di dalamnya mudah diekstrak oleh mikroba, sehingga mikroba lebih menyukainya untuk sumber makanan. Sedangkan pada NA, bahan-bahan yang terkandung di dalamnya sebagian merupakan bahan-bahan kimia sehingga agak sulit diekstrasi oleh mikroba. Pembuatan medium Nutrien Agar (NA) menggunakan bahan utama beef ekstrak 5 g, peptom 3 g dan agar 3 g. Pada awal pengamatan medium Nutrien Agar, sebelum proses sterilisasi berwarna kuning, setelah sterilisasi warna medium menjadi agak coklat. Pada pembuatan medium NA ini ditambahkan pepton agar mikroba cepat tumbuh, karena mengandung banyak N2 (Dwidjoseputro, 1994). Agar yang digunakan dalam proses ini untuk mengentalkan medium sama halnya dengan yang digunakan pada medium PDA yang juga berperan sebagai media tumbuh yang ideal bagi mikroba (Schlegel, 1993).
Selain itu, praktikan juga melakukan percobaan penanaman bakteri dan jamur yang dimurnikan dengan media lain. Langkah-langkah kerjanya yaitu mensterilkan tangan dan alat-alat kerja dengan alkohol. Kemudian media padat yang sudah ada pada petri dish disterilkan dengan didekatkan pada pembakar spirtus, begitu pula dengan ose yang akan digunakan terlebih dahulu dibakar sampai menyala kemerahan dan didiamkan sampai baranya hilang atau sudah mendingin supaya jamur dan bakteri yang akan ditanam tidak mati. Pada pengambilan bakteri dan jamur, media yang sudah terisi bakteri atau jamur dibuka sambil diputar dan didekatkan pada api, lalu ose yang sudah dipanaskan dimasukan untuk mengambil salah satu koloni bakteri atau jamur yang akan praktikan tanam sebagai kultur murni. Kemudian bakteri atau jamur yang sudah menempel pada ose diletakan pada media yang sudah disterilkan dengan cara didekatkan pada api. Untuk penanaman jamur praktikan menggunakan media PDA, sedangkan untuk penanaman bakteri menggunakan media NA dengan teknik streak plate yaitu dengan cara menggoreskan satu ose kultur campuran pada medium agar, kemudian diinukulasi secara terbalik selama 24-48 jam. Untuk hasil, kami tidak sempat melihat hasil dari penanaman bakteri tersebut berhubung dengan keterbatasan waktu praktikum. Namun setidaknya, disini telah dilakukan praktiknya secara langsung oleh para praktikan adalah bagaimana cara mengisolasi bakteri yang baik dan benar.
Jamur merupakan mikroba dengan struktur talus berupa benang-benang (hifa) yang terjalin seperti jala (myselium). Hifa dapat berekat (septat) dengan inti tunggal/ lebih dan hifa tidak bersekat (aseptat). Penampakan morfologi koloni pada umumnya seperti benang (filamentous) yang pertumbuhannya membentuk lingkaran. Morfologi koloninya dapat dengan mudah dibedakan dengan bakteri walaupun ada beberapa jenis bakteri yang koloninya mirip jamur, seperti dari kelompok Actinomycetes atau Bacillus mycoides. Koloni kapang memiliki keragaman warna yang muncul dari sporanya(http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/11/bab-5-morfologi-mikroba.html).
Pada hasil percobaan yang praktikan lakukan, jamur di sana terlihat seperti kumpulan benang-benang putih. Dapat dibantu oleh teori, benang-benang putih itu adalah hifa.
Sedangkan koloni yang berbentuk bintik-bintik berwarna kuning dan putih mengkilap diperkirakan sebagai bakteri.



G.    KESIMPULAN
1.     Teknik isolasi yang praktikan lakukan adalah Streak Plate yaitu dengan menggoreskan 1 ose kultur campuran pada medium agar dan diinkubasikan secara terbalik selama 24-48 jam.
2.     Morfologi bakteri dan jamur pada percobaan kali ini dapat diamati dengan ciri-ciri morfologi yang tampak. Jamur terlihat seperti kapas dan ada pula yang berspora. Sedangkan bakteri terlihat berwarna kuning dan putih mengkilap.








DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Mikroorganisme bakteri dan virus.. Diakses dari http://massofa wordpress.com/2008/02/05/microorganism-bakter-dan-virus pada hari Senin, 3 Mei 2010.


____________. Bakteri. Diakses dari http:www.wikipedia.org/bakteri pada hari Senin, 3 Mei 2010.


____________. Jamur.Diakses dari http:www.wikipedia.org/JAMUR pada hari Senin, 3 Mei 2010.


____________. Media Kultur Bakteri. Diakses dari http://www.try4know.co.cc/2009/10/media-kultur-bakteri.html pada hari Rabu, 21 April 2010.


____________. Morfologi mikkroba. Diakses dari http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/11/bab-5-morfologi-mikroba.html pada hari Rabu, 19 Mei 2010.


Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.
Hadioetomo, R. S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia: Jakarta.
Lim, D. 1998.  Microbiology, 2nd Edition. McGrow-hill Book: New York.

Schegel, G.H. 1993. General Microbiologi seventh edition. Cambrige University Press: USA.
Staier, Roger Y. 1982. Dunia Mikrobe I. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara.
Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti: Jakarta.
Suyitno. 2010. Petunjuk Praktikum Biologi Dasar II. Yogyakarta: FMIPA UNY
Tarigan, Jeneng. 1988. Penganar Mikrobiolog. Jakarta: Depdikbud

Volk , W. A & Wheeler. M. F. 1993. Mikrobiologi Dasar Jilid 1 Edisi ke 5. Erlangga: Jakarta.

Waluyo, Lud. 2008. Teknik dan Metode Biologi. Malang: UMM Press.


No comments: