Translate

Monday, May 9, 2011

Perkembangan masa kanak-kanak awal dan akhir

Perkembangan masa kanak-kanak awal dan akhir

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkembangan berbeda dengan pertumbuhan tetapi saling terkait dalam proses perkembangan. Pertumbuhan merupakan proses kuantitatif yang menunjukkan perubahan yang dapat diamati secara fisik. Pertumbuhan dapat diamati melalui penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan lingkar kepala anak. Misalnya seorang anak kecil menjadi tinggi dan besar. Sedangkan perkembangan merupakan proses kualitatif yang menunjukkan bertambahnya kemampuan (ketrampilan) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang beraturan dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Perkembangan berkaitan dengan aspek kemampuan motor, intelektual, sosial, emosional, dan bahasa. Misalnya anak menjadi lebih cerdas atau lebih fasih berbicara.
Perkembangan kejiwaan pada masa anak-anak, terkadang disebut dengan masa anak kecil atau atau juga masa menjelang sekolah, sebab masa ini saat-saat anak senang mempersiapkan diri untuk bersekolah. Demikian pula masa ini ada yang menyebut dengan masa estetis, dikarenakan anak mulai mengenal dunia sekitarnya yang terasa serba indah. Terlebih lagi, dalam usia anak-anak, memang terasa begitu menyenangkan sebab, yang ada hanyalah bermain, meminta, mengeluh dan mencoba berbagai macam hal yang diinginkan. Namun, sering kali apabila seorang pengasuh atau orang tua tidak memahami dan mengenalm perkembangan anak, maka anak akan tumbuh tidak baik. Oleh karena itu, kami menyusun makalah perkembangan anak-anak ini diharapkan dapat berguna bagi pembacanya.




B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan dari latar belakang yang telah dituliskan, maka kita dapat mengambil beberapa rumusan masalah yang layak dibahas, yaitu sebagai berikut:
1. Pembagian perkembangan pada masa anak-anak?
2. Bagaimanakah perkembangan awal pada anak-anak?
3. Bagaimanakah perkembangan akhir pada anak-anak?























BAB II
PEMBAHASAN

A. PEMBAGIAN MASA KANAK-KANAK
Masa kanak-kanak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kirakira usia dua tahun sampai saat anak matang secara seksual, kira-kira tiga belas tahun untuk perempuan dan empat belas tahun untuk laki-laki. Setelah anak matang secara seksual, maka ia disebut remaja.
Pada saat ini, secara luas diketahui bahwa masa kanak-kanak harus dibagi lagi menjadi dua periode yang berbeda yaitu:
1. Periode awal masa kanak-kanak, yang berlangsung dari usia dua sampai enam tahun.
2. Periode akhir masa kanak-kanak, yang berlangsung dari usia enam tahun sampai tiba saatnya anak matang secara seksual.

B. MASA ANAK-ANAK AWAL
Salah satu ciri tertentu masa bayi merupakan ciri khas yang membedakannya dengan periodeperiode lain dalam rentang kehidupan, demikian pula halnya dengan ciri tertentu dari periode awal masa kanak-kanak. Ciri ini tercermin dalam sebutan yang biasanya diberikan oleh para orang tua, pendidik, dan ahli psikologi.
• Sebutan yang Digunakan Orang Tua
Sebagian besar orang tua menganggap awal masa kanak-kanak sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit. Dengan datangnya masa kanak-kanak, sering terjadi masalah perilaku yang lebih menyulitkan daripada masalah perawatan fisik masa bayi. Seringkali orang tua menganggap masa awal kanak-kanak sebagai usia mainan karena anak muda menghabiskan sebagian besar waktu juga bermain dengan mainannya. Penyelidikan tentang permainan anak menunjukkan bahwa bermain dengan mainan mencapai puncaknya pada tahun-tahun awal masa kanak-kanak, kemudian mulai menurun saat anak mencapai usia sekolah. Selama tahun prasekolah, taman kanak-kanak, pusat penitipan anak-naka dan kelompok bermain, semuanya menekankan permainan yang memakai mainan. Akibatnya, baik sendiri atau berkelompok, mainan merupakan unsur yang penting dari aktivitas bermain mereka.
• Sebutan yang Digunakan Para Pendidik
Para pendidik menyebut tahun-tahun awal masa kanak-kanak sebagai usia prasekolah untuk membedakannya dari saat dimana anak dianggap cukup tua, baik secara fisik maupun dan mental, untuk menghadapi tugas-tugas pada saat mereka mulai mengikuti pendidikan formal. Anak mengikuti taman kanak-kanak juga dinamakan anak-anak prasekolah dan bukan anak-anak sekolah. Di rumah, di pusat-pusat perawatan, taman kanak-kanak, tekanan dan harapan yang dikenakan kepada anak-anak sangat berebeda dengan apa yang dialaminya pada saat memulai pendidikan formal di kelas satu. Awal masa kanak-kanak, baik di rumah maupun di lingkungan prasekolah, merupakan masa persiapan.
• Sebutan yang Digunakan Para Ahli Psikologi
Para ahli psikologi menggunakan sejumlah sebutan yang berbeda untuk menguraikan ciri-ciri yang menonjol dari perkembangan psikologis anak selama tahun-tahun awal masa kanak-kanak. Salah satu sebutan yang banyak digunakan adalah usia kelompok, masa dimana anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu mereka masuk kelas satu. Karena perkembangan utama yang terjadi selama awal masa kanak-kanak berkisar di seputar penguasaan dan pengendalian lingkungan, banyak ahli psikologi melabelkan awal masa kanakkanak sebagai usia menjelajah, sebuah label yang menunjukkan bahwa anak-anak ingin mengetahui keadaan lingkungannya, bagaimana mekanismenya, bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungan. Yang paling menonjol dalam periode ini adalah meniru pembicaraan dan tindakan orang lain. Oleh karena itu, periode ini juga dikenal sebagai usia meniru. Namun meskipun kecenderungan ini tampak kuat tetapi anak lebih menunjukkan kreativitas dalam bermain selama masa kanak-kanak dibandingkan dengan masamasa lain dalam kehidupannya. Dengan alasan ini, ahli psikologi juga menamakan periode ini sebagai usia kreatif.
http://psikologi.or.id

1. Tugas-Tugas Perkembangan Masa Anak-Anak Awal
Seperti fase perkembangan sebelumnya dan juga fase-fase yang lain, maka menurut Havighurst fase kanak-kanak awal ini juga disertai tugas-tugas perkembangan yang perlu dilakukan oleh seorang anak dengan baik, karena dengan terpenuhinya tugas perkembangan ini dengan lancar, dan menjalani kehidupannya dengan bahagia (Havighurst, dalam Monks, 1998). Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak awal ini adalah sebagai berikut:
1) Belajar perbedaan dan aturan-aturan jenis kelamin.
2) Kontak perasaan dengan orang tua, keluarga dan orang-orang lain.
3) Pembentukan pengertian sederhana, meliputi realitas fisik dan realitas sosial.
4) Belajar apa yang benar dan apa yang salah; perkembangan kata hati.
(Rita Eka Izzaty dkk, 2008: 98)
2. Perkembangan Anak-Anak Awal
a) Perkembangan Fisik pada Masa Kanak-kanak Awal
1) Petumbuhan tinggi dan berat badan
Pertumbuhan selama masa awal masa kanak-kanak berlangsung lambat dibanding dengan tingkat pertumbuhan pada masa bayi. Anak dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, misalnya, tubuhnya cenderung lebih tinggi pada awal masa kanak-kanak daripada mereka yang kecerdasannya rata-rata atau di bawah rata-rata dan gigi sementaranya lebih cepat tanggal. Meskipun perbedaan seks tidak menonjol dalam peningkatan tinggi dan berat tubuh, tetapi pengerasan tulang dan lepasnya gigi sementara lebih cepat pada anak perempuan, dari usia ke usia. Anak dari kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung memperoleh gizi dan perawastan yang lebih baik sebelum dan sesudah kelahiran. Oleh karena itu, perkembangan tinggi, berat dan otot-otot badan cenderung lebih baik.
Postur tubuh anak pada masa kanak-kanak awal ada yang berbentuk gemuk (endomorfik), berotot (mesomorfik), dan ada juga yang relatif kurus (ektomorfik). Perbandingan tubuhnya sangat berubah tidak lagi seperti bayi, namun gumpalan pada bagian-bagian tubuh berangsur-angsur berkurang dan tubuh cenderung berbentuk kerucut, dengan perut yang rata (tidak buncit), dada lebih bidang dan rata, bahu lebih luas dan lebih persegi. Lengan dan kaki lebih panjang dan lebih lurus, tangan dan kaki tumbuh lebih besar.
(Rita Eka Izzaty dkk, 2008: 86)
Tulang dan otot anak mengalami tingkat pengerasan yang bervariasi pada bagian-bagian tubuh. Otot menjadi lebih besar, lebih kuat dan berat, sehingga anak lebih kurus meskipun beratnya bertambah. Selain itu selama 4-6 bulan pertama dari awal masa kanak-kanak, 4 gigi bayi yang terakhir yakni geraham belakang muncul. Selama setengah tahun terakhir gigi bayi mulai tanggal yakni gigi seri tengah yang pertama kali lepas, dan digantikan gigi tetap. Akhir dari masa kanak-kanak awal biasanya anak memiliki satu atau dua gigi tetap di depan dan beberapa celah di mana gigi tetap akan muncul.
(Rita Eka Izzaty dkk, 2008: 86)
2) Perkembangan motorik
Awal masa kanak-kanak merupakan masa yang paling baik untuk mempelajari keterampilan tertentu, karena menurut Hurlock (1992) dalam Perkembangan Peserta Didik oleh Rita Eka Izzaty dkk, ada tiga alasan, yakni:
a. Anak sebang mengulang-ulang, sehingga dengan senang hati mau mengulang suatu aktivitas sampai terampil.
b. Anak-anak bersifat pemberani, sehingga tidak terlambat rasa takut kalau mengalami sakit atau diejek teman-teman sebagaimana ditakuti oleh anak yang lebih besar.
c. Anak mudah dan cepat belajar karena tubuh mereka masih lentur dan keterampilan yang dimiliki baru sedikit, sehingga keterampilan yang baru sedikit, sehingga keterampilan yang sudah ada.

Keterampilan yang dipelajari anak muda belia bergantung sebagian pada kesiapan kematangan terutama kesempatan yang diberikan untuk mempelajari dan bimbingan yang diperoleh dalam menguasai keterampilan ini secara cepat dan efisien. Terdapat perbedaan seks dalam jenis keterampilan yang dipelajari anak-anak. Dalam awal masa kanak-kanak, anak laki-laki harus mempelajari keterampilan bermain yang secara budaya sesuai dengan kelompok anak laki-laki dan dilarang menguasai keterampilan yang dianggap lebih sesuai untuk anak perempuan. Meskipun terdapat sejumlah perbedaan, setiap anak-anak umumnya belajar keterampilan umum tertentu, meskipun saat mempelajarinya agak berbeda dan kecakapan dalam mempelajarinya juga berbeda. Keterampilan umum ini dapat dibagi kedalam dua kelompok besar, yaitu keterampilan tangan dan keterampilan kaki.
Keterampilan Tangan
Keterampilan dalam makan dan berpakaian sendiri yang dimulai pada masa bayi disempurnakan dalam awak masa kanak-kanak. Kemajuan terbesar dalam keterampilan berpakaian umumnya antara usia 1,5 dan 3,5 tahun. Menyisir rambut dan mandi merupakan keterampilan yang mudah dilakukan dalam periode ini. Antara usia lima dan enam tahun sebagian besar anak-anak sudah
pandai melempar dan menangkap bola. Mereka dapat menggunakan gunting, dapat membentuk tanah liat, membuat kue-kue dan menjahit. Dengan krayon, pensil, dan cat anak-anak dapat mewarnai gambar, menggambar atau mengecat gambarnya sendiri dan dapat menggambar orang.
Keterampilan Kaki
Sekali anak dapat berjalan, ia mengalihkan perhatian untuk mempelajari gerakan-gerakan yang menggunakan kaki. Pada usia lima atau enam tahun ia belajar melompat dan berlari cepat. Mereka juga sudah dapat memanjat. Antara usia tiga dan empat, naik sepeda roda tiga dan berenang dapat dipelajari. Keterampilan kaki lain yang dikuasai anak-anak adalah lompat tali, keseimbangan tubuh dalam berjalan di atas dinding atau pagar, sepatu roda, bermain sepatu es dan menari.
(Rita Eka Izzaty dkk, 2008: 87)
3) K


b) Perkembangan Intelektual pada Masa Kanak-kanak Awal
1) Perkembangan kognisi
Dunia kognitif anak-anak prasekolah ialah kreatif, bebas dan penuh imajinatif. Perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak berfokus pada tahap pemikiran praoperasional Piaget, pemprosesan informasi, perkembangan bahasa, teori perkembangan Vigotsky, dan pendidikan pada masa awal anak-anak.
a. Tahap Pemikiran Praoperasional Piaget
Tahap praoperasional terentang antara usia 2 sampai 7 tahun. Pada tahap inilah konsep yang dibentuk stabil, penalaran mental muncul, egosentrismr mulai kuat dan kemudian lemah, serta keyakinan terhadap hal yang magis terbentuk. Pemikiran praoperasional juga mencagkup peralihan penggunaan simbol yang primitif kepada yang lebih canggih. Pemikiran praoperasional dapat dibagi menjadi 2 tahap, yaitu:
Subtahap Fungsi Simbolis
Menurut (Sanrtock hal: 228-229, 2002) menyatakan subtahap ini, anak-anak mengembangkan kemampuan untuk membayangkan secara mental suatu obyek yang tidak ada. Kemampuan untuk berpikir simbolis seperti ini disebut “fungsi simbolis”, dan kemampuan ini mengembangkan secara cepat dunia mental anak. Contoh: anak-anak kecil menggunakan desain corat-caret untuk menggambarkan manusia, rumah, mobil, awan dan lain-lain.
Bentuk pemikiran pada tahap praoperasional, adalah:
i. Egosentrisme (¬Egocentrism)¬: suatu ciri pemikiran praoperasional anak yang menonjol. Egosentirme adalah suatu ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif seseorang dengan perspektif orang lain.
ii. Animisme (¬animism)¬: bentuk lain pemikiran praoperasional adalah keyakinan bahwa obyek yang tidak bergerak adalah memiliki kualitas “semacam kehidupan” dan dapat bertindak.

Sub Tahap Pemikiran Intuitif
¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬Subtahap pemikiran Intuitif adalah kedua pemikiran Praoperasional yang terjadi pada usia 4 dan 7 tahun. Pada subtahap ini, anak-anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban atas semua pertanyaan. Piaget menyebut waktu ini “Intuitif” karena anak-anak berusia muda tampaknya begitu yakin tentang pengetahuan dan pemahaman mereka, tetapi belum begitu sadar darimana mereka tahu apa yang mereka ketahui itu.
Contoh: Anak-anak pada usia praoperasional jika dihadapkan dengan obyek acak yang dapat dikelompokkan bersama atas dasar dua atau lebih sifat, mereka jarang dapat menggunakan sifat ini secara konsisten untuk meyortir objek-objek kedalam kelompok-kelompok yang tepat. (Santrock, hal:231, 2002)

b. Pemprosesan Informasi
Dua keterbatasan dalam pemikiran anak-anak prasekolah ialah dalam hal perhatian dan ingatan, yakni dua bidang yang terlibat dalam cara anak kecil memproses informasi.
Perhatian
Salah satu kekurangan dalam perhatian selama tahun-tahun Prasekolah menyangkut dimensi-dimensi tersebut yang menonjol atau penting dibandingkan dengan dimensi yang relevan untuk memcahkan masalah atau mengerjakan suatu tugas dengan baik. Misalnya: suatu masalah dapat memiliki kelucuan yang menyolok dan menarik perhatian yang memberi arah bagi pemecahan suatu masalah. Setelah usia 6 aatau 7 tahun, anak prasekolah mengikuti secara lebih efisien dimensi-dimensi tugas yang relevan seperti pengarahan bagi pemecahan masalah. (santrock, hal: 234-235, 2002)
¬Memori (ingatan)
Ingatan ialah suatu proses sentral dalam perkembangan kognitif anak. Ingata meliputi penyimpanan informasi terus menerus. Diantara pernyataan yang menarik perhatian, tentang ingatan tahun-tahun prasekolah ialah yang mencangkup ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek ialah individu menyimpan informasi selama 15 detik hingga 30 menit, dengan asumsi tidak ada latihan atau pengulangan. (Santrock, hal:235, 2002)
Analisis Tugas
para pakar psikolog pemprosesan informasi ialah tergugah minatnya oleh kemungkinan bahwa bila tugas-tugas dibuat menarik dan sederhana, anak-anak dapat menunjukan kematangan kognitif yang lebih besar daripada yang disadari oleh Piaget. Dengan menyederhanakan masalah dan dibuat dimensi-dimensinya lebih mudah dipahami oleh anak-anak, para peneliti mendemonstrasikan bahwa anak-anak prasekolah dapat bernalar dengan silogisme. (Santrock, hal:236, 2002)

c. Teori Pikiran Anak
Perkembangan pengetahuan pertama adalah mengetahui bahwa pikiran itu ada. Pada anan usia 2-3 tahun, anak-anak mengembangakan pengetahuan bahwa manusia bisa “dikaitkan secara kognitif” dengan objek-objek dan peristiwa-peristiwa diluar dengan cara melihat, mendengar, menyukai, menginginkan takut akan objek dan lain sebagainya. Berdasarkan kesadaran mereka akan hubungan stimuli, keadaan mental dan perilaku, anak-anak kecil akan memiliki teori mental yang mendasar tentang tindakan manusia. Anak berusia 3 tahun, sering dapat menyimpulkan keadaan mental dan perilaku. Ketika anak-anak menggunakan bahasa spontan, mereka terkadang menjelaskan tindakan dengan cara mengacu keadaan sebab-sebab mental. Sebagai contoh: seorang anak berusia 3 tahun menjelaskan bahwa ia mengecat tangannya karena ia menganggap tangannya seperti kertas, yang memberi makna baru kepada istilah “cap jari”. (Berko, 1958 dalam Santrock, hal:238-239, 2002)
Anak-anak mengembangakan suatu pemahaman bahwa suatu pikiran dapat menjelaskan objek dan peristiwa secara akurat atau tidak akurat. Pemahaman dan keyakinan-keyakinan yang keliru biasanya muncul pada anak usia 5 tahun atau 4 tahun, tetapi tidak untuk anak berusia 3 tahun.
Akhirnya, anak-anak juga mengembangkan suatu pemahaman bahwa pikiran secara aktif menengahi interprestasi tentang kenyataan dan emosi yang dialami. Pada tahun-tahun sekolah dasar, anak-anak berubah dari memandang emosi sebagai disebabkan oleh peristiwa-peristiwa eksternal tanpa penengahan oleh keadaan internal, menjadi memandang reaksi-reaksi emosional terhadap peristiwa eksternal, pengalaman atau pengharapan-pengharapan sebelumnya. (Gneep 1989 dalam Santrock)

d. Perkembangan Bahasa dan Bicara
Pemahaman anak-anak berusia muda kadang-kadang melampaui kemampuan berbicara mereka. Banyak keganjilan bahasa anak kecil terdengar seperti kesalahan ditelinga orang dewasa. Namun, dari sudut pandang anak keil, mereka tidak salah. Mereka menggunakan cara anak kecil dalam merasakan dan memahami dunia mereka pada masa perkembanganya.
¬Elaborasi Tahap-tahap Brown
¬panjang rata-rata pengucapan (mean Lenght Of Utterance, MLU) merupakan indeks yang baik untuk melihat kematangan bahasa seorang anak.ia mengidentifikasikan lima tahap perkembangan bahasa seorang anak berdasarkan MLU. Aspek-aspek lain dari tahap itu meliputi rentang usia, kerakteristik dan kalimat khas. (Brown 1973, 1986 dalam Santrock)
¬sistem Aturan
¬ketika anak-anak bergerak melampaui pengucapan dua kata, ada bukti yang kuat bahwa mereka mengetahui aturan-aturan morfologi. Anak-anak mulai menggunakan kata-kata majemuk dan bentuk-bentuk possesive benda (seperti anjing dan anjingnya), menaruh akhiran yang tepat pada kata-kata kerja (seperti –s bila subjeknya ialah orang ketiga tunggal, -ed untuk past tense dan –ing untuk present progressive tense). (Santrock, hal: 238, 2002)
Kemampuan Berbicara
Pada saat anak-anak berusia 2 Tahun, mereka tidak lagi mengoceh dan tangis mereka sudah sangat berkurang. Selama masa awal kanak-kanak, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk belajar berbicara. Hal ini disebabkan karena 2 hal yaitu berbicara merupakan sarana pokok sosialisasi dan berbicara merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian. Untuk meningkatkan komunikasi, anakanak harus menguasai 2 tugas pokok yang merupakan unsure penting dalam belajar bicara. Pertama, mereka harus meningkatkan kemampuan untuk mengerti apa yang dikatakan orang lain dan kedua, mereka harus meningkatkan kemampuan berbicaranya sehingga dapat dimengerti orang lain.
• Peningkatan dalam pengertian
Kemampuan mengerti sangat dipengaruhi cara anak mendengarkan apa yang dikatakan kepadanya. Mendengarkan radio dan televise ternyata sangat membantu karena mendorong anak untuk mendengarkan. Disamping itu kalau orang berbicara dengan lambat dan jelas, menggunakan kata-kata yang sekiranya dapat dimengerti juga dapat mendorong anak untuk mendengarkan dengan baik.
• Peningkatan dalam ketrampilan berbicara
Awal masa kanak-kanak umumnya merupakan saat berkembang pesatnya penguasaan tugas pokok dalam belajar yaitu pengucapan kata-kata, menambah kosakata dan membentuk kalimat. Ada bukti bahwa anak muda belia sekarang berbicara lebih baik daripada generasi sebelumnya. Menurut McCarthy (95) hal ini disebabkan karena berkembangnya radio dan televise, semakin banyaknya kebersamaan orang tua dan anak, membaiknya kondisi ekonomi dan berkurangnya jumlah waktu anak dalam pengasuhan pengasuh berkemampuan terbatas. Bukti yang lain adalah orang tua masa kini, terutama ibu lebih banyak bicara dengan anak-anak karena ibu lebih banyak mempunyai waktu luang dan semakin banyak anak berhubungan dengan teman sebayanya.
http://psikologi.or.id
- Isi pembicaraan
Pada awalnya, pembicaraan anak-anak bersifat egosentris. Menjelang akhir awal masa kanak-kanak mulailah pembicaraan bersifat social dan berbicara tentang orang lain disamping dirinya sendiri, namun banyak dari pembicaraan social awal ini sebenarnya tidak bersifat social. Tetapi dengan bertambah besarnya kelompok bermain, pembicaraan anak lebih bersifat social dan tidak lagi egosentris.
- Jumlah bicara
Awal masa kanak-kanak terkenal sebagai masa tukang ngobrol, karena sekali anak-anak dapat berbicara dengan mudah, ia tak putus-putusnya berbicara. Factor yang mempengaruhi banyaknya anak berbicara adalah intelegensi, jenis disiplin, posisi urutan, besarnya keluarga, status social ekonomi, status ras, berbahasa dua, dan penggolongan peran seks.
http://psikologi.or.id

e. Teori Perkembangan Vigotsky
¬Zona Perkembangan Proximal
¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬ ZPD ialah istilah Vigotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi yang dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari orang-orangdewasa atau anak-anak yang terampil.oleh sebab itu, batas rendah ialah level pemecahan masalah yang dicapai oleh seorang anak yang bekerja secara mandiri. Batas level tinggi ialah level tanggungjawab tambahan yang dapat diterima oleh anak dengan bantuan seorang instrukstur yang mampu. (Steward 1994 dalam Santhrock hal: 240)
Pembelajaran pada anak-anak yang baru berjalan memberikan contoh bagaimana ZPD bekerja. Anak kecil yang baru berjalan harus dimotivasi dan harus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang menuntut keterampilan yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinngi, yaitu menuju zona yang paling tinggi. Dalam suatu penelitian tentang hubungan antara ibu dan anak yang baru belajar berjalan, pasangan itu ditugaskan untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang terdiri atas berbgai jumlah (sedikit objek vs banyak objek) dan berbagai kompleksitas (perhitungan sederhana vs reproduksi angka). (Santrock, hal: 240, 2002)

¬¬¬¬¬Bahasa dan Pemikiran
¬¬¬¬¬ A¬da dua prinsip yang mempengaruhi penyatuan pemikiran dan bahasa. Pertama, semua fungsi mental memiliki asal usuleksternal atau sosial. Anank-anak harus menggunakan bahsa dan mengkomunikasikanya kepada orang lain sebelum mereka berfokus ke dalam proses-proses mental mereka sendiri. Kedua, nak-anak harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahsa selama periode waktu yang lama sebelum transisi dari kemampuan berbicara secara eksternal ke internal berlangsung. Periode transisi ini terjadi pada anak usia 3-7 tahun dan meliputi berbicara kepada dirinya sendiri. (Santrock hal:241, 2002)
Teori Vigotsky menentang gagasan-gagasan Piaget tentang bahsa dan pemikiran. Vigotsky menyatakan bahwa bahsa, bahkan dalam bentunya yang paling awal adalah berbasis sosial, sementara Piaget menekankan pda cakapan anak-anak yang bersifat egosentris dan berorientasi nonsosial. (Duncan, 1991 dalam Santrock hal:241, 2002)
¬kebudayaan dan Masyarakat
¬¬¬¬Teori Vigotsky menawarkan suatu potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Ia menekankan bagaimana proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan temuan-temuan masyarakat seperti bahsa, sistem matematika dan alat peraga. Ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut.
Vigotsky menekankan baik level konteks sosial yang bersifat instutisional maupun yang bersifat interpersonal. Dalam konteks Instutisional, sejarah kebudayaan menyediakan organissasi dan alat-alat yang berguna bagi kegiatan kognitif melalui intitusi seperti sekolah, penemuan seperti komputer dan melek huruf. Level interersonal memiliki suatu pengaruh yang labih langsung pada kefungsian mental anak. (Santrock hal:241, 2002)
f. Pendidikan Masa Awal Anak-anak
Dengan meningkatnya pemahaman tentang bagaimana anak kecil berkembang dan belajar, telah muncul penekanan yang lebih besar pada pendidikan anak-anak kecil.
¬Taman Kanak-anak yang berpusat pada anak
¬program anak-anak sangat bervariasi. Beberapa pendekatan lebih menekankan pada perkembangan kognitifnya. Di taman anak-anak yang berpusat pada anak, pendidikan melibatkan seluruh anak dan mencakup kepedulian akan perkembangan fisik, kognitif dan sosial anak. Pembelajaran diorganisasikan sesuai dengan kebutuhan, minat-minat dan gaya belajar anak. Penekanan adalah pada proses belajar dan buka pada apa yang dipelajari.
Setiap anak mengikuti suatu pola perkembangan yang unik, dan anak-anak kecil paling baik mengikuti belajar melalui pengalaman tangan pertama (langsung) dengan manusia dan benda-benda. Bermain sangat penting dalam perkembangan total anak. Mencoba, menjelajahi, menemukan, menguji coba, menginstruksi berbicara dan mendengar adalah kata-kata yang menggambarkan program-program taman anak-anak yang bagus. Program didasarkan atas suatu keadaan yang telah berlangsung, bukan atas suatu keadaan yang akan jadi (Bellenger, 1983 dalam Santrock hal:242, 2002)
¬¬Praktik-praktik yang cocok dan tidak cocok Menurut Teori Perkembangan dalam Pendidikan anak-anak kecil
¬sejumlah besar pendidik dan psikolog yakin bahwa anak-anak prasekolah dan sekolah dasar paling baik belajar melalui metode-metode belajar yang aktif dan bersifat konkrit seperti permainan dan bermain drama. Mereka juga yakin bahwa sekolah harus berfokus pada peningkatan perkembangan sosial anak dan juga perkembangan kognitifnya. Praktik yang cocok menurut teori perkembangan adalah yang didasarkan pada pengetahuan tentang perkembangan anak dalam suatu rentang usia (kecocokan usia) dan juga keunikan anak (kecocokan individu). Praktik yang cocok berbeda dengan praktik yang tidak cocok, yang mengabaikan pendekatan belajar yang bersifat konkrit dan aktif. Pada umumnya pembelajaran langsung melalui kegiatan yang bersifat abstrak dan melalui kertas dan pensil yang diberikan kepada sejumlah anak kecil diyakini sebagai praktik yang tidak cocokmenurut teori perkembangan. (Santrock, hal:242, 2002)
¬apakah ada Persoalan jika Anak-anak masuk Sekolah sebelum Taman Kanak-anak?
¬peningkatan jumlah prasekolah publik menegaskan pertumbuhan keyakinan bahwa pendidikan masa anak-anak harus menjadi suatu unsur yang sah dari pendidikan publik, tentu ada bahayanga (menurut Elkind, 1988 dalam Santrock hal:243-245, 2002), pendidikan masa awal anak-anak seringkali tidak dipahami dengan baik ditingkat pendidikan yang lebih tinggi. Bahayanya ialah jika pendidikan prasekolah publik bagi anak-anak usia 4 tahun anak menjadi tidak lebih dari “perluasan kebawah” dari pendidikan dasar Tradisional.
¬Pengaruh Pendidikan Masa Awal Anak-anak
¬menurut Clarke-Stewart dan Fein 1983 dalam Santrock hal 247, 2002) menyimpulkan bahwa anak-anak yang mengikuti prasekolah atau taman anak-anak:
o Berinteraksi lebih bnayak denagn rekan-rekan sebayanya, secara positif mmaupun negatif
o Kurang kooperatif dengan dan kurangresposif terhadap orang-orang dewasa dibanding anak-anak yang diasuh di rumah.
o Lebih berkompeten dan dewasa secara lebih percaya diri, mandiri, mengekspresikan diri secara verbal, mengetahui dunia sosial, bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sosial dan keadaan tidak menyenangkan, dan menyesuaikan diri dengan lebih baik ketika meraka masuk sekolah.
o Kurang berkompeten secara sosial dalam arti kurang sopan, kurang tunduk terhadap tuntutan-tuntutan guru, lebih berisik, lebih agresif, dan lebih bossy, utamanya bila sekolah atau keluarga mendukung perilaku tersebut.

c) Perkembangan Sosial-Emosional pada Masa Kanak-kanak Awal
1) Emosi Awal Masa Kanak-Kanak
Selama awal masa kanak-kanak emosinya kuat dan tidak seimbang. Emosi pada awal masa kanak-kanak ditandai oleh ledakan amarah yang kuat, ketakutan yang hebat dan iri hati yang tidak masuk akal. Emosi yang umum pada awal masa anak-anak adalah amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih dan kasih sayang. Amarah dianggap sesuai untuk anak laki-laki, maka sepanjang masa awal kanak-kanak, anak laki-laki lebih banyak menunjukkan amarah yang hebat daripada anak perempuan.
2) Sosialisasi Pada Awal Masa Kanak-Kanak
Awal masa kanak-kanak serin disebut sebagai masa prakelompok. Dasar untuk sosialisasi diletakkan dengan meningkatnya hubungan antara anak dengan teman sebayanya. Pola sosialisasi awal, antara usia 2 dan 3 tahun, anak menunjukkan minat yang nyata untuk melihat anak-anak lain dan berusaha mengadakan kontak social dengan mereka. Ini dikenal sebagai bermain sejajar, perkembangan berikutnya adalah bermain asosiatif dan selanjutnya bermain kooperatif.
Pola perilaku sosial dan tidak sosial
Pola sosial Pola tidak sosial
• Meniru • Negativisme
• Persaingan • Agresif
• Simpati • Perilaku berkuasa memikirkan diri sendiri
• Empati • Mementingkan diri sendiri
• Dukungan sosial • Merusak
• Membagi • Pertentangan seks
• Perilaku akrab • Prasangka



Perke
Bentuk Perilaku Awal dalam Pelbagai Situasi Sosial
Dalam penelitian longitudinal terhadap sejumlah anak, Waldrop dan Halverson melaporkan bahwa anak yang pada usia 2,5 tahun bersikap ramah dan aktif secara social akan terus bersikap seperti itu sampai usia 7,5tahun, sehingga disimpulkan sikap social pada 7,5 tahun diramalkan oleh sikap social pada 2,5 tahun.
• Keluarga
Banyak keluarga dan pendidik anak usia dini menekankan pentingnya perkembangan sosial selama masa kanak-kanak awal atau tahun-tahun prasekolah. Aspek-aspek perkembangan sosial emosional anak-anak prasekolah dapat menjadi bagian integral dari perkembangan arera lainnya, seperti perkembangan kognitif dan perkembangan motorik.
Beberapa pakar yakin bahwa kasih sayang seorang pengasuh selama beberapa tahun pertama kehidupan merupakan ramuan kunci dalam perkembangan sosial anak, meningkatkan kemungkinan anak akan berkompeten secara sosial dan menyesuaikan diri dengan baik pada tahun-tahun prasekolah sesudahnya.
Bentuk-bentuk pengasuhan dalam keluarga nantinya juga akan mempengaruhi bagaimana perkembangan sosio-emosional anak. Berikut merupakan pola-pola pengasuhan:
- Pengasuhan yang otoriter (authoritarium parenting) ialah suatu gaya membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orang tua yang otoriter menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar kepada anak-anak untuk berbicara (bermusyawarah). Pengasuhan yang otoriter diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak-anak.
- Pengasuhan yang otorotatif (authoritative parenting) mendorong anak-anak agar mandiri tetapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka. Musyawarah verbal yang ekstensif dimungkinkan, dan orang tua memperlihatkan kehangatan serta kasih sayang kepada anak. Pengasuhan yang otoritatif diasosiasikan dengan kompetensi sosial anak-anak.
- Pengasuhan yang permisif-indifferent ialah suatu gaya di mana orang tua sangat tidak terllibat dalam kehidupan anak; tipe pengasuhan ini diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak, khususnya kurangnya kendali diri.
- Pengasuhan yang permissive-indulgent ialah suatu gaya pengasuhan di mana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka tetapi menetapkan sedikit batas atau kendali terhadap mereka. Pengasuhan yang permissive-indulgent diasosiasikan dengan inkompetensi sosial anak, khususnya kurangnya kendali diri.
(Santrock, 2002; hal:257-259)
Orang tua juga perlu menyesuaikan perilaku mereka terhadap anak, yang didasarkan atas kedewasaan perkembangan anak. Orang tua tidak boleh memperlakukan anak berusia 5 tahun sama dengan anak yang berusia 2 tahun. Anak-anak yang berusia 5 tahun dan 2 tahun memiliki kebutuhan-kebutuhan dan kemampuan-kemampuan yang berbeda.
• Teman-teman
Dalam semua tahapan usia, teman-teman terbagi menjadi 3 kelompok sesuai perannya, yaitu:
1. Rekan
Rekan adalah orang yang memuaskan kebutuhan akan temandengan berada dalam lingkungan yang sama dimana ia dapat dilihat dan didengar , namun tidak ada interaksi antara individu dan rekan.
2. Teman Bermain
Teman bermain adalah orang dengan siapa individu terlibat dalam kegiatan yang menyenangkan dimana dilihat dari kesamaan minat ketrampilan.
3. Teman Baik
Teman baik adalah bukan hanya teman bermain yang cocok tetapi juga seseorang pada siapa individu dapat berkomunikasi dengan bertukar pendapat dan saling dipercaya dengan saling memberi nasihat.
Pada masa awal kanak-kanak, teman-teman terutama terdiri dari rekan, teman bermain dan biasanya sedikit yang berperan sebagai teman dalam awal masa kanak-kanak. Anak tidak saja bermain tetapi juga saling mengungkapkan perasaan, emosi, minat dan cita-cita. Dalam memilih teman, anak lebih menyukai teman yang usia dan tingkat perkembangannya sama.
Teman Pengganti
Kalau kebutuhan berteman tidak terpenuhi baik karena keterpencilan geografis ataupun perbedaan tingkat perkembangan pada teman-temannya maka untuk mengisi kekurangan itu dengan cara mengadakan teman bermain khayal yaitu teman yang merupakan hasil khayalan anak atau dengan memperlakukan binatang kesayangan sebagai orang yang sungguh-sungguh.
http://psikologi.or.id

Bermain Pada Masa Kanak-Kanak
Pada masa awal kanak-kanak sering disebut sebagai tahap mainan, karena dalam periode ini hampir semua permainan menggunakan mainan.
• Bermacam-macam minat bermain
Minat bermain anak-anak mengikuti suatu pola yang sangat dipengaruhi oleh kematangan dalam bentuk permainan tertentu oleh lingkungan diamana ia di besarkan. Anak laki-laki lebih sadar dari pada anak perempuan tentang kesesuaian mainannya dengan jenis kelamin dan menunjukkan minat lebih luas dari pada anak perempuan.
• Pola bermain masa awal kanak-kanak
1. Bermain dengan Mainan
Pada permulaan masa awal kanak-kanak, beermain dengan mainan merupakan bentuk yang dominan.
2. DramatisasiSekitar usia tiga tahun dramatisasi terdiri dari permainan dngan meniru pengalaman-pengalaman hidup kemudian anak-anak bermain pura-pura dengan teman-temannya.
3. Kontruksi
Anak-anak membuat bentuk-bentuk benda tiruan dengan menyusun balok, pasir, manik-manik dll.
4. Permainan
Dalam tahun keempat anak lebih menyukai bermain dengan teman sebayanya dari pada dengan orang dewasa.
5. Membaca
Anak-anak senag dibacakan dan melihat gambar-gambar dari buku.
6. Film, Radio dan Televisi
Anak mulai senang menikmati hiburan dengan menonton film, mendengarkan radio serta melihat acara-acara anak di televise.
http://psikologi.or.id

d) Perkembangan Moral pada Masa Kanak-kanak Awal
Perkembangan moral pada awak masa kanak-kanak masih tingkat yang rendah. Hal ini disebabkan karena peerkembangan intelektual masa kanak-kanak belum mencapai titik dimana ia dapat mempelajari atau menerapkan prinsip-prinsip abstrak benar atau salah dan tidak mempunyai dorongan untuk mematuhi peraturan-peraturan karena tidak mengerti manfaatnya sebagai anggota kelompok social.
1) Pandangan Piaget tentang Bagaimana Penalaran Moral Anak-anak berkembang
Heteronomous morality ialah tahap pertama perkembangan moral menurut teori Piaget, yang terjadi kira-kira pada usia 4 hingga 7 tahun. Keadilan dan aturan-aturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh berubah, yang lepas dari kendali manusia. Autonomuos morality ialah tahap kedua perkembangan awal menurut teori Piaget, yang diperlihatkan oleh anak-anak yang lebih tua (kira-kira usia 10 tahun dan lebih). Anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum diciptakan oleh manusia dan dalam menilai suatu tindakan, seseorang harus mempertimbangkan maksud-maksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. Anak-anak berusia 7 hingga 10 tahun berada di dalam suatu transisi di antara dua tahap, menunjukkan beberapa ciri dari keduanya.
Piaget berpendapat bahwa, seraya berkembang, anak-anak juga menjadi lebih canggih dalam berpikir tentang persoalan-persoalan sosial, khususnya tentang kemungkinan –kemungkinan dan kondisi-kondisi kerjasama. Piaget yakin bahwa pemahaman sosial ini terjadi melalui relasi-relasi teman sebaya yang saling memberi dan menerima.
(Santrock, 2002; hal:287-288)
2) Perilaku Moral
Studi tentang perilaku moral telah dipengaruhi oleh teori belajar sosial. Proses-proses penguatan, penghukuman, dan peniruan digunakan untuk menjelaskan perilaku moral anak-anak. Bila anak-anak diberi hadiah atas perilaku yang sesuai dengan aturan dan perjanjian sosial, mereka akan mengulangi perilaku itu. Bila model yang berperilaku secara model diberikan, anak-anak akan meniru tindakan sang model tersebut. Dan bila anak-anak dihukum atas perilaku yang tidak bermoral, perilaku itu akan berkurang atau hilang. Tetapi karena hukuman memiliki akibat sampingan yang berbeda, hukuman perlu digunakan secara bijaksana dan hati-hati.
Hal penting lain yang perlu dipikirkan mengenai pandangan belajar sosial tentang perkembangan moral: perilaku moral dipengaruhi secara ekstensif oleh situasi. Apa yang dilakukan oleh anak-anak dalam situasi seringkali hanya kurang terkait dengan apa yang mereka lakukan pada situasi-situasi lain.
(Santrock, 2002; hal:288)



C. MASA KANAK-KANAK AKHIR
1. Tugas-Tugas Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir
Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa anak sekolah dasar. Pada masa ini, anak sudah banyak bergaul dengan orang-orang di luar rumah, baik dengan lingkungan sekitar rumah, teman sebaya, maupun lingkungan sekolah.
Sebelum mengetahui tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak akhir, perlu diketahui dulu tujuan dari tugas perkembangan pada anak. Tujuan dari tugas perkembangan yaitu pertama, sebagai pedoman untuk membantu para orang tua dan guru guna mengetahui apa yang harus dipelajari anak pada usia tertentu, tapi yang akan dibahas hanya pada masa kanak-kanak akhir. Kedua, menimbulkan motivasi bagi anak untuk belajar hal-hal yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia tersebut. Ketiga, menunjukkan pada orang tua dan guru tentang apa yang diharapkan dari anak pada masa mendatang.
Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak akhir adalah:
1. Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain
2. Sebagai makhluk yang sedang tumbuh, mengembangkan sikap yang sehat mengenai diri sendiri
3. Belajar bergaul dengan teman sebaya
4. Mulai mengembangkan peran sosial pria dan wanita
5. Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung
6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
7. Mengembangkan kata batin, moral, dan skala nilai
8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga
9. Mencapai kebebasan pribadi

2. Perkembangan Masa Kanak-Kanak Akhir
Masa kanak-kanak akhir terjadi pada anak usia sekitar 6-13 tahun. Lebih rincinya, Hurlock (1997: 38) menjelaskan bahwa anak perempuan mengalami perkembangan kanak-kanak akhir pada usia 6-13 tahun dan 6-14 tahun pada anak laki-laki. Hal itu berbeda karena perbedaan periode dimana terjadi kematangan seksual dan masa remaja anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan. Bahkan, pada usia dan jenis kelamin yang sama, belum tentu mempunyai masa perkembangan yang berbeda. Seperti yang dikatakan Hurlock (1997: 39), semua anak biasanya melalui periode perkembangan yang berbeda pada sekitar usia yang sama.Permulaan masa kanak-kanak akhir ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu sekolah dasar. Masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anak, sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai dan perilaku.
Dunia anak adalah dunia bermain. Pada masa ini, hampir semua waktunya digunakan untuk bermain untuk mendapatkan kebahagiaan. Sehingga, ada yang beranggapan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa bahagia. Dengan pengetahuan itu, akan menbantu orang tua dan guru untuk bisa mengonsep pendidikan yang menarik dan tidak membuat anak bosan, misalnya pelajaran yang disajikan dalam bentuk permainan. Itulah perlunya mempelajari perkembangan anak.
Secara umum, perkembangan manusia mencakup perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa, perkembangan moral, perkembangan emosi dan perkembangan sosial. Yang akan dibahas dalam makalah ini adalah perkembangan yang terjadi pada masa kanak-kanak akhir, yaitu masa dimana anak menenpuh pendidikan di sekolah dasar.



a) Perkembangan Fisik
Perubahan nyata yang terjadi pada masa kanak-kanak akhir terlihat pada sistem tulang, otot dan keterampilan gerak. Bahkan, pada masa ini, kemajuan keterampilan gerak sangat menonjol, misalnyaberlari, memanjat, melompat, berenang, naik sepeda, adalah kegiatan fisik dan keterampilan gerak yang banyak dilakukan oleh anak. Pada prinsipnya selalu aktif bergerak penting bagi anak. Menurut Rita, dkk (2008: 105), kegiatan fisik sangat perlu untuk mengembangkan kestabilan tubuh dan kestabilan gerak serta melatih koordinasi untuk menyempurnakan berbagai keterampilan.
Perbedaan seks dalam pertumbuhan fisik menonjol dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hampir tidak tampak.

b) Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (Siti, 1995: 52-53), masa kanak-kanak akhir tergolong pada masa Operasi Konkret (Concret Operational Thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek – objek peristiwa nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari pancaindera, karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya yaitu pada usia 7-12 tahun. Konsep yang pada awal masa kanak-kanak samar-samar menjadi lebih konkret. Anak mampu berfikir logis walaupunmasih terbatas pada masa sekarang.
Proses-proses dalam tahapan operasional konkret antara lain:
a. Pengurutan: kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya.
b. Klasifikasi: kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut.
c. Decentering: anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya.
d. Reversibility: anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
e. Konservasi: memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut.
f. Penghilangan sifat Egosentrisme: kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).

Perkembangan kognitif anak meliputi perkembangan memori, perkembangan pemikiran kritis, dan perkembangan kreatifitas.
a. Perkembangan memori
Marthy (1994) menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu:
1) Rehearsal (Pengulangan): Suatu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulang berkali-kali informasi yang telah disampaikan.
2) Organization (Organisasi): Pengelompokan dan pengkategorian sesuatu yang digunakan untuk meningkatkan memori. Seperti, anak SD sering mengingat nama-nama teman sekelasnya menurut susunan dimana mereka duduk dalam satu kelas.
3) Imagery (Perbandingan): Membandingkan sesuatu dengan tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang.
4) Retrieval (Pemunculan Kembali): Proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan. Ketika suatu isyarat yang mungkin dapat membantu memunculkan kembali sebuah meori, mereka akan menggunakannya secara spontan.
b. Perkembangan pemikiran kritis.
Pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber serta mampu befikir secara reflektif dan evaluatif.
c. Perkembangan kreativitas
Anak-anak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.Daya kreativitasnya berkembang menjadi lebih baik dari masa sebelumnya.
Perkembangan kognitif menunjukan kemampuan berfikir anak berkembang dari tingkat yang sederhana ke tingkat yang lebih rumit dan abstrak dan juga semakin berfungsi. Anak sudah lebih mampu berfikir, belajar, mengingat, memahami, berkomunikasi, dan memecahkan masalah.

c) Perkembangan Bahasa
Perbendaharaan kosakata dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat. Pada masa ini perkembangan bahasa akan lebih terlihat pada perbendaharaan kata. Anak-anak semakin banyak menggunakan kata kerja yang tepat, tidak lagi manggunakan banyak kata-kata tetapi juga memilih kata yang tepat. Untuk lebih menunjang peningkatan bahasa anak di perluakn belajar membaca dan menulis. Membaca dan menulis dapat meningkatkan kemampuan menganalisis kata sehingga membantunya untuk mengerti yang tidak secara lansung berhubungan dengan pengalaman pribadinya.
Demikian pula dalam peningkatan tata bahasa. Anak bisa membandingkan anta desa dan kota, saudara kandung dan sepupu atau hal- hal lainnya sehingga dapat mengunkapkan dengan lebih pendek. Anak dapat berbicara dengan lebih efektif, lebih dalam, dan sering bersifat subjektif. Selain itu juga anak lebih mengenal dan mengguanakan atura-aturan dalam tata bahasa.
a. Perkembangan Bicara
Salah satu alat komunuikasi yang terpenting adalah berbicara. Dan bahasa menjadi sangat penting karena ketika kita tidak bisa memaknai pembicaraan orang lain maka komunikasi tidak akan berjalan dengan baik. Dengan adanya peningkatan bahasa anak maka pembicaraan anak akan lebih terkendali dan terseleksi. Dengan adanya perbendaharaan kata dan tata bahasa yang baik akan menunjang bicara anak.
b. Minat Membaca
Pada usia 8 tahun minat membaca anak-anak semakin meningkat. Anak laki-laki menyukai hal yang lebih nyata sementara anak perempuan menyukain hal-hal yang lebih fiksi matau cerita. Perhatian membaca mencapai puncaknya pada usia 10-12. Dimana materi bacaan anak-anak semakin luas sehingga perbendaharaan kata dan tata bahasa sebagai bekal untuk berbicara dan berkomunikasi semakin baik.

d) Perkembangan Moral
Perkembangan moral ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami aturan, norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Perkembangan moral meliputi perubahan perasaan, pikiran, dan tingkah laku. Perilaku moral seseorang dalam masyarakat banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua serta perilaku moral dari orang-orang disekitarnya. Artinya, lingkungan juga mempengaruhi perkembangan moral seseorang. Ada dua dimensi dalam perkembangan moral, yaitu dimensi intrapersonal dan dimensi interpersonal.
a. Dimensi intrapersonal: mengatur aktifitas seseorang ketika dia tidak ikut serta dalam interaksi social.
b. Dimensi interpersonal: mengatur interaksi sosial seseorang dan konflik keadilan.
Bagaimana cara berfikir anak-anak mengenai persoalan moral mendorong Jean Piaget mengamati dan mewawancarai anak-anak dari usia 4 sampai 12 tahun. Menurut Piaget dalam Life Span Development (Santrock:2002) antara usia 5-12 tahun konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Piaget menyimpulkan konsep berfikir anak mengenai keadilan dalam dua perbedaan berdasarkan perkembangan kedewasaannya, yaitu :
a. Moralitas heteronomous
Merupakan tingkatan pertama dari perkembangan moral yang terjadi pada anak usia 4 sampai 7 tahun. Keadilan dan peraturan dibayangkan sebagai sifat dari dunia yang tidak dapat berubah.
b. Moralitas autonomous
Merupakan tingkatan kedua dari perkembangan moral. Ditampakkan oleh anak yang lebih tua yaitu sekitar usia 10 tahun. Anak menjadi sadar bahwa peraturan dan hukuman dibuat oleh orang-orang dan dengan demikian dalam menilai sebuah tindakan, seseorang seharusnya mempertimbangkan maksud atau tujuan tindakan dan akibat dari tindakan tersebut.
Anak-anak yang lebih tua yaitu sekitar usia 10 tahun, mereka percaya bahwa aturan adalah subjek untuk berubah, dan menyadari bahwa hukuman tidak selalu mengikuti perbuatan salah. Misalnya bagi anak usia 5 tahun berbohong adalah hal buruk, tetapi bagi anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi berbohong adalah dibenarkan.
Kohlberg memperluas teori Piaget dan menyatakan adanya enam tahap perkembangan moral. Keenam tahapan tersebut terjadi pada tiga tingkatan, yakni prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional (Santrock, 2002:316).
Pada tahap prakonvensional , anak peka terhadap peraturan-peraturan yang berlatar belakang budaya dan terhadap penilaian baik buruk, benar salah tetapi anak mengartikannya dari sudut akibat fisik suatu tindakan. Tahap ini ada dua tingkatan :
a. Heteronomous: moral berfikir sering dikaitkan dengan hukuman. Missal anak-anak mematuhi orang dewasa karena orang dewasa member itahu mereka untk mematuhi.
b. Individualism, instrumental purpose and exchange: individu mengikuti kepentingan mereka sendiri tetapi juga mengajak yang lainnya mengerjakan hal yang sama. Jika orang di sekitarnya merasa senang dengan mereka maka mereka juga akan merasa senang dengan orang di sekitarnya.
Tahap konvensional merupakan suatu tahapan dimana memenuhi harapan-harapan keluarga, kelompok atau agama dianggap sebagai sesuatu yang berharga pada dirinya sendiri, anak tidak peduli apapun akan akibat-akibat langsung yang terjadi. Ada dua tingkatan dalan tahap ini :
a. Mutual Interpersonal expectation, relationship, and interpersonal conformity: individu menilai kepercayaan, kepedulian dan kesetiaan dengan lainnya sebagai dasar dari pertimbangan moral. Anak sering mengikuti moral baku orang tua mereka dan mencoba untuk menjadi anak baik.
b. Social systems morality: pertimbangan moral berdasarkan pada pemahaman permintaan social, hukum, keadilan dan kewajiban.
Tahap pascakonvensional ditandai dengan adanya usaha yang jelas untuk mengartikan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip tersebut terlepas apakah individu yang bersangkutan termasuk kelompok itu atau tidak.
Beberapa ciri perkembangan moral anak pada masa anak-anak akhir yaitu:
a. Berkurangnya rasa ego
b. Peningkatan dalam hal pemeliharaan, misalnya:
1) Mau memelihara alat permainannya
2) Mengelompokan benda sesuai jenisnya masing-masing.
c. Mulai memperhatikan dan menerima pandangan orag lain.
d. Perkembangan pengertian tentang perhitungan seperti jumlah, panjang, luas dan besar.
e. Pemahaman tentang konsep ruangan, kausalitas, ketegorisasi, konversi dan penjumahan lebih baik. Mereka sudah dapat menemukan jalan daari rumah ke sekolah pada usia 6 sampai 7 tahun. Juga mempunyai ide yang lebih baik tentang jarak dari suatu tempat ke tempat lain, lama waktu tempuh, rute dan tanda-tanda jalan.
f. Keputusan anak akan sebab akibat akan meningkat. Juga kemampuan anak dalam memecahkan masalah misalnya dalam perhitungan matematika anak-anak mengguanakan jari atau benda lain.
g. Anak-anak pada masa operasi konkret berfikir induktif. Maksudnya adalah berdasarkan observasi tentang segala sesuatu yang terjadi di masayarakat dan lingkungan.

e) Perkembangan Emosi
Emosi memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan anak. Akibat dari emosi ini juga sering dirasakan oleh fisik anak terutama bila emosi itu kuat dan berulang-ulang. Seorang anak dengan kondisi keluarga yang kurang atau tidak bahagia, rasa rendah diri, memungkinkan terjadinya tekanan perasaan atau emosi. Emosi yang nyata misalnya : takut, amarah, cemburu, irihati kerapkali disebut sebagai emosi yang tidak menyenangkan atau “unpleasant emotion” yang merugikan perkembangan anak. Sebaliknya emosi yang menyenangkan atau “pleasant emotion’’ seperti : kasih sayang, kebahagiaan, rasa ingin tahu, suka cita, tidak saja membantu perkembangan anak tetapi sesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan anak.
Menginjak usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidak dapat diterima di masyarakat. Maka dari itu mereka belajar mengontrol dan mengendalikan emosi (Syamsu Yusuf, 2007:97). Cara mereka mengendalojan emosi biasanya dengan meniru perilaku orang-orang disekitarnya kemudian melatihnya sehingga mereka dapat mengontrol emosi dengan sendirinya. Hurlock (1997,116) menyatakan bahwa ungkapan emosi yang muncul pada masa ini masih sama dengan masa sebelumnya, seperti: amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang.
Ciri-ciri emosi masa kanak-kanak akhir adalah:
a. Emosi anak berlangsung relatif singkat, hanya beberapa menit dan sifatnya tiba-tiba. Hal ini disebabkan karena emosi anak menampakkan dirinya di dalam kegiatan atau gerakan yang nampak, sehingga menghasilkan emosi yang pendek, tidak seperti pada orang dewasa yang dapat berlangsung lama.
b. Emosi anak kuat atau hebat, hal ini terlihat bila anak : takut, marah atau sedang bersenda gurau. Mereka akan tampak marah sekali, takut sekali meskipun kemudian cepat hilang. Lain halnya dengan orang dewasa, meskipun takut namun ketakutannya tidak begitu tampak.
c. Emosi anak mudah berubah. Emosi anak sering berubah, saling berganti-ganti emosi, dari emosi susah ke emosi senang dan sebaliknya dalam waktu yang singkat.
d. Emosi anak nampak berulang-ulang. Hal ini timbul karena anak dalam proses perkembangan ke arah kedewasaan yang harus menyesuaikan terhadap situasi di luar, dan hal ini dilakukan secara berulang-ulang.
e. Respon emosi anak berbeda-beda. Pengamatan terhadap anak dengan berbagai tingkat usia menunjukkan bervariasinya respon emosi. Pengalam belajar dari lingkunannya membentuk tingkah laku dengan perbedaan emosi secara individual.
f. Emosi anak dapat diketahui atau dideteksi dari gejala tingkah lakunya. Meskipun anak kadang-kadang tidak memperlihatkan reaksi emosi yang nampak dan langsung, namun emosi itu dapat diketahui dari tingkah lakunya.
g. Emosi anak mengalami perubahan dalam kekuatannya. Suatu ketika emosi itu begitu kuat, kemudian berkurang, emosi yang lain mula-mula lemah berubah menjadi kuat.
h. Perubahan dalam ungkapan-ungkapan emosional. Anak-anak memperlihatkan keinginan yang kuat terhadap apa yang mereka inginkan. Ia tidak mempertimbangkan bahwa keinginan itu merugikan baik untuk dirinya maupun orang lain.
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi perilaku individu termasuk perilaku belajar. Jika emosi anak sedang tidak baik, seperti perasaan tidak senang, kecewa, marah dan sebagainya maka proses belajar akan mengalami hambatan. Maka dari itu perlu bagi pendidik untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik.
f) Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan perilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bermasyarakat (sosialized) memerlukan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan, sehingga kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasi individu. Ketiga proses tersebut adalah belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial, memainkan peran sosial yang dapat diterima, dan perkembangan sikap sosial.
Perkembangan emosi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan sosial, yang sering disebut sebagai perkembangan tingkah laku sosial. Ciri yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah ciri sosialnya. Sejak lahir anak dipengaruhi oleh lingkungan sosial, orang-orang disekitarnyalah yang banyak mempengaruhi perilaku sosialnya.
Dunia sosio-emosional anak menjadi semakin kompleks dan berbeda pada masa ini. Interaksi dengan keluarga dan teman sebaya memiliki peran yang penting.sekolah dan hubungan dengan guru menjadi hal yang penting dalam hidup anak. Pemahaman tentang diri dan perubahan dalam perkembangan gender dan moral menandai perkembangan anak selama masa kanak-kanak akhir.
a. Kegiatan Bermain
Dibanding dengan masa sebelumnya, pada masa ini anak sudah mulai masuk sekolah sehingga anak mau tidak mau akan mengurangi waktu bermainnya. Bermain sangat penting bagi perkembangan fisik, psikis dan banyak memberikan berbagai pengalaman berharga. Bermain secara kelompok memberikan peluang dan pelajaran untuk anak untuk berinteraksi, bertenggang rasa dengan sesama teman.
Permainan yang disukai cenderung permainan yang berkelompok, kecuali bagi anak yang kurang diterima di kelompok. Bermain yang sifatnya menjelajah, sangat mengasyikan bagi anak. Permainan konstruktif yaitu membangun atau membentuk sesuatu adalah bentuk permainan yang juga disukai anak dan dapat mengembangkan kreativitas anak. Bernyanyi juga merupakan bentuk kegiatan kreatif lainnya. Permainan berkelompok lainnya, misalnya olah raga seperti sepak bola dan volley, permainan ini mambantu perkembangan otot dan pembentukan tubuh.
b. Teman Sebaya
Teman sebaya pada umumnya adalah teman sekolah dan atau teman bermain di luar sekolah. Pengaruh teman sebaya sangat besar bagi arah perkembangan anak baik yang bersifat positif maupun negatif. Pengaruh positif terlihat pada pengembangan konsep diri dan pembentukan harga diri. Hanya ditengah-tengah teman sebaya anak bisa merasakan dan menyadari bagaimana dan dimana kedudukan atau posisi dirinya. Teman sebaya memberikan cara bagaimana bergaul di masyarakat. Sebaliknya, teman sebaya juga memiliki kemungkinan memberikan pengaruh negatif, seperti merokok,mencuri, membolos, menipu serta perbuatan antisosial lainnya. Minat terhadap kegiatan kelompok mulai timbul. Mereka memiliki teman-teman sebaya untuk melakukan kegiatan bersama. Kegiatan dengan teman sebaya ini meliputi belajar bersama, melihat pertunjukkan, bermain, masak memasak dan sebagainya. Mereka sering melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa.
Keinginan untuk diterima dalam kelompok sangat besar. Anak berusaha agar teman-teman dikelompoknya menyukai dirinya. Anak yang populer cenderung sebagai anak yang terbaik dan jarang atau tidak pernah tidak disukai oleh teman-temannya. Para peneliti menemukan bahwa anak yang populer pada umumnya memberikan semangat, mendengarkan dengan baik, memelihara komunikasi dengan teman, bahagia, menunjukkan entusiame dan peduli pada orang lain, percaya diri tanpa harus sombong.
Wentztal dan Asher menyatakan para pakar perkembangna membedakan 3 tipe anak yang tidak populer yaitu:
1) Anak yang diabaikan(neglected children): yaitu anak yang jarang dinominasikan sebagai teman terbaik tetapi bukan tidak disukai oleh teman-teman dikelompoknya. Anak ini biasanya tidak memiliki teman bermain yang akrab, tetapi mereka tidak dibenci atau ditolak oleh teman sebayanya.
2) Anak yang ditolak (rejected children): yaitu anak yang jarang dinominasikan oleh seseorang sebagai anak yang terbaik dan tidak disukai oleh kelompoknya, karena biasanya anak yang ditolak adalah anak yang agresif, sok kuasa dan suka mengganggu. Anak ini biasanya mengalami problem penyesuaian diri yang serius dimasa dewasa.
3) Anak yang kontroversi (controversial children) adalah anak yang sering dinominasikan keduanya yaitu baik sebagai teman terbaik dan sebagai teman yang tidak disukai(Santrock, 2007:325)
Gang masa kanak-kanak merupakan suatu kelompok setempat yang spontan yang kekuasaannya tidak diberi dari luar dan tidak mempunyai tujuan yang diterima secara sosial. Gang merupakan usaha anak untuk menciptakan suatu masyarakat yang sesuai bagi kebutuhan mereka. Gang memberikan kebebasan dari pengawasan orang dewasa, meskipun mungkin tidak bersikap bermusuhan dengan orang dewasa yang mempunyai otoritas. Gang tidak selalu merupakan produk lingkungan yang memenuhi syarat, tetapi juga terdapat di dalam lingkungan yang baik.
a. Susunan Gang
Gang mempunyai struktur yang lebih jelas dibandingkan dengan penglempokkan anak-anak yang lebih kecil secara informal. Anggota gang dipilih karena mereka mampu melakukan hal-hal yang anak lain suka melakukannya, tidak karena mereka tinggal berdekatan satu sama lain dan juga karena mereka dapat melakukan hal-hal yang disukai oleh satu atau dua orang anggota.
Gang yang umum adalah kelompok bermain yang terdiri atas anak-anak yang mempunyai minat bermain yang sama; dan tujuannya yang utama adalah bersenang-senang. Akibatnya, susunan gang biasanya bersifat satu jenis kelamin (unisex).
Ciri khas gang anak-anak
1) Gang dikenal karena namanya.
2) Anggota gang mempunyai isyarat, kata tegoran, dan kode komunikasi rahasia.
3) Gang anak-anak sering menggunakan tanda pengenal.
4) Gang kadang mempunyai upacara plonco untuk anggota baru.
5) Tempat pertemuan yang dipilih gang sejauh mungkin mengurangi campur tangan orang dewasa.
6) Aktivitas gang meliputi semua bentuk permainan dan hiburan kelompok.
b. Perbedaan Gang
Karena setiap anak mempunyai kebutuhan social yang berbeda-beda, tipe yang memenuhi kebutuhan seorang anak tidak selalu memenuhi kebutuhan anak lainnya. Ada gang yang besar dan ada pula yang relative kecil. Ukuran besar kecilnya gang sebagian dipengaruhi oleh banyaknya anak yang tersedia bagi keanggotaan gang dan sebagian lagi dipengaruhi oleh tipe aktivitas yang mereka sukai.
Sebagian besar gang berangotakan anak-anak yang umurnya sama dan mempunyai tingkatan kelas sekolah yang sama. Jika gang terbentuk dari anak-anak dengan usia yang berbeda, pemimpinnya hampir selalu salah satu dari anggota yang tertua. Gang di lingkungan yang miskin lebih banyak melibatkan diri dalam kenalan dan perkelahian dibandingkan dengan gang di lingkungan yang lebih baik.
c. Pengaruh Gang
Sebagian besar kehidupan gang pada masa kanak-kanak menunjang perkembangan kualitas yang baik. Gang mengajarkan anak-anak untuk bersikap demokratis, untuk menyesuaikan keinginan dan perbuatan mereka denga keinginan dan perbuatan kelompok, untuk bekerja sama dengan anggota kelompok, untuk mengembangkan ketrampilan yang memungkinkan mereka melakukan hal-hal yang dilakukan teman sebaya, dan untuk menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri.
Sebaliknya kehidupan gang menunjang perkembangan kualitas tertentu yang tidak baik. Kadang-kadang gang mendorong penggunaan bahasa kasar (slang) dan sumpah serapah, penceriteraan dongen dan lelucon cabul, pembolosan, kenakalan, sikap memandang rendah aturan dan orang-orang yang mempunyai kekuasaan, pemutusan ikatan keluarga, dan pemindahan kesetiaan dari keluarga kepada aktivitas kelompok, kesombongan, diskriminasi terhadap anggota kelompok minoritas dan anggota gang saingan, dan pengabaian idealisme yang dibina dalam keluarga.

Pola Perilaku yang Dipelajari dari Keanggotaan Gang
a. Kerentanan (Susceptibility) terhadap penerimaan dan penolakan sosial
b. Kepekaan yang berlebihan
c. Mudah dipengaruhi dan tidak mudah dipengaruhi
d. Persaingan
e. Sikap sportif
f. Tanggung jawab
g. Wawasan sosial
h. Diskriminasi sosial
i. Prasangka
j. Antagonism jenis kelamin
(Hurlock, 1997:264-272)

Masa kanak-kanak akhir dibagi menjadi dua fase:
a. Masa kelas-kelas rendah Sekolah Dasar yang berlangsung antara usia 6/7 tahun – 9/10 tahun, biasanya mereka duduk di kelas 1, 2 dan 3 Sekolah Dasar.Ciri-ciri anak masa kelas-kelas rendah Sekolah Dasar adalah:
1) Ada hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah.
2) Suka memuji diri sendiri
3) Kalau tidak dapat menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, tugas atau pekerjaan itu dianggapnya tidak penting.
4) Suka membandingkan dirinya dangan anak lain, jika hal itu menguntungkan dirinya.
5) Suka meremehkan orang lain.

b. Masa kelas-kelas tinggi Sekolah Dasar, yang berlangsung antara usia 9/10 tahun – 12/13 tahun, biasanya mereka duduk di kelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar. Ciri khas anak masa kelas-kelas tinggi Sekolah Dasar adalah:
1) Perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari
2) Ingin tahu, ingin belajar dan realistis
3) Timbul minat kepada pelajaran-pelajaran khusus
4) Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah
5) Anak-anak suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.

3. Implikasi Masa Kanak-Kanak Akhir Pada Dunia Pendidikan
Jean Piaget mengembangkan teori kemampuan berfikir anak melalui satu rangkaian tahapan. Anak-anak pada masa anak-anak akhir ini oleh Piaget dikategorikan dalam tahapan operasional konkret. Pada masa kanak-kanak akhir, anak mampu berfikir logis mengenai objek dan kejadian,meskipun masih terbatas pada hal-hal yang sifatnya konkret, dapat digambarkan atau pernah dialami. Namun meski sudah mampu berfikir logis, cara berfikirnya masih berorientasi pada kekinian.
Pada masa ini umumnya egosentrisme mulai berkurang. Anak mulai memperhatikan dan menerima pandangan orang lain. Berkurang rasa egonya dan mulai bersikap sosial. Materi pembicaraan mulai lebih ditujukan kepada lingkungan sosial, tidak pada dirinya saja. Anak berfikir induktif, berfikir dari hal-hal yang khusus kemudian ditarik kesimpulan ke yang umum. Mereka memiliki pengertian yang lebih baik tentang konsep ruang, sebab akibat, kategorisasi, konservasi dan tentang jumlah. Anak mulai memahami jarak, hubungan antara sebab dan akibat yang ditimbulkan, kemampuan mengelompokkan benda berdasar kriteria tertentu, dan menghitung. Anak juga mampu mengklasifikasikan dan menurutkan suatu benda berdasarkan ciri-ciri suatu objek.
1. Konservasi
Menurut Piaget dalam Dasar dan Teori Perkembangan Anak (Singgih, 1982:157), anak-anak pada masa operasional konkret ini bisa melakukan tugas-tugas konservasi dengan baik, karena anak-anak pada masa ini telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi yakni:
a. Negasi
Pada masa pra-operasional anak hanya melihat atau memperhatikan keadaan permulaan dan keadaan akhir pada deretan benda yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada akhirnya keadaannya menjadi tidak sama. Anak tidak melihat apa yang terjadi di antaranya.
Pada masa operasional konkret anak telah mengerti proses apa yang terjadi di antara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan antara keduanya. Pada deretan benda-benda anak bisa mengembalikan atau membatalkan perubahan yang terjadi sehingga bisa menjawab bahwa jumlah benda-benda adalah tetap sama.
b. Hubungan Timbal Balik (Resiprokasi)
Ketika anak melihat bagaimana deretan dari benda-benda itu diubah, anak mengetahui bahwa deretan benda-benda bertambah panjang tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dengan deret yang lain. Karena anak mengetahui hubungan timbal balik antara panjang dan kurang rapat atau sebaliknya kurang panjang tetapi lebih rapat, maka anak tahu pula bahwa jumlah benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama.
c. Identitas
Anak pada masa operasional konkret ini sudah bisa mengenal satu persatu benda-benda yang ada pada deretan-deretan itu. Anak bisa menghitung, sehingga meskipun benda-benda dipindahkan, anak mengetahui bahwa jumlah tetap sama.
2. Klasifikasi
Banyak operasi-operasi konkret yang diidentifikasikan Piaget melibatkan cara anak berpikir tentang karakteristik objek. Suatu keahlian penting yang mencirikan operasional konkret ialah kemampuan untuk mengklasifikasikan benda dan memahami relasi antarbenda tersebut. Secara khusus, Santrock (2007:257), anak-anak operasional konkret akan memahami:
a. Keterhubungan antara kumpulan dan sub kumpulan. Hal ini dapat diilustrasikan oleh pohon keluarga empat generasi. Pohon keluarga ini menggambarkan kakek (A) memiliki tiga orang anak (B, C dan D), tiap orang anak memiliki dua orang anak (E sampai J), dan salah satu anak (J) memiliki tiga orang anak (K, L dan M). Seorang anak dengan operasional konkret dapat memahami bahwa J, pada saat yang bersamaan, dapat menjadi ayah, saudara, anak dan cucu.
b. Seriation; operasi konkret meliputi pengurutan stimuli sepanjang dimensi kuantitatif (seperti panjang).
c. Transitivity; jika ada relasi antara objek pertama dan kedua, dan ada relasi antara objek kedua dan ketiga, pasti ada relasi antara objek pertama dan ketiga. Contohnya, ada tiga buah tongkat (A, B dan C) dengan panjang berbeda. A adalah tongkat terpanjang, B lebih pendek dari A namun lebih panjang dari C. Apakah A lebih panjang dari C? Dalam teori Piaget, pemikir operasional konkret akan menjawab ya.

Strategi yang dapat dilakukan oleh guru dalam pembelajaran pada masa kanak-kanak akhir adalah:
1. Menggunakan bahan-bahan yang konkret, misalnya barang atau benda nyata.
2. Menggunakan alat visual, misalnya OHP, transparansi.
3. Menggunakan contoh-contoh yang sudah akrab dengan anak dari hal yang bersifat sederhana ke hal yang bersifat kompleks.
4. Menjamin penyajian yang singkat dan terorganisasi dengan baik, misalnya menggunakan angka kecil dari butir-butir kunci.
5. Memberi latihan nyata dalam menganalisis masalah atau kegiatan, misalnya menggunakan teka-teki dan curah pendapat.
Guru perlu mengamati dan mendengar apa yang dilakukan oleh siswa dan mencoba menganalisis bagaimana cara berfikir siswa.


DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, Elizabeth. 1997. Perkembangan Anak,(Terjemahan). Jakarta: Erlangga.

Marthy. 2010. Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Piaget. [online]. Tersedia: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2023964-tahap-perkembangan-kognitif-menurut-piaget/. [26 Februari 2011].

Rita Eka Izzaty, dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press.

Santrock, John W. 2002. Life Span Development. Boston: Mc Graw-Hill.
. 2007. Perkembangan Anak,(Terjemahan). Jakarta: Erlangga.

Singgih D.Gunarsa. 1982. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Siti Partini.1996. Psikologi Perkembangan.Yogyakarta:IKIP Yogyakarta.

Syamsu Yusuf L.N.2007.Perkembangan Anak Dan Remaja.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.

Reactions:

0 comments: